Jumat, 29 September 2017

Cerita masa lalu




Ketika mentari mulai menyapa salah satu sisi jendela kamarku, aku mencoba menolak dengan memposisikan tubuhku melawan sinar itu. Namun, mentari yang kukira akan menjadi sahabatku di waktu pagi tak mengizinkanku untuk berlama-lama terbaring di tempat tidur. Aku merasakan mentari yang berbeda di pagi ini. Tak seperti biasanya mentari yang kurasakan di pagi ini menyengat begitu kuat sehingga aku terpaksa menyudahi kenyamananku dan mengakhiri mimpi indahku. Aku diminta untuk cepat bangun dan membuka mata, menyaksikan keindahan dari Sang Pencipta yang terpancar dari mentari itu. Namun, kesadaranku belum kembali secara penuh. Tapi rasanya sulit sekali untuk membuka mata. Aku putuskan untuk menutup mataku sejenak.
***
Aku masih melamun, berpikir dan mengingat di mana aku sekarang. Aku menemukan ruangan yang berbeda. Timbul dalam pikiranku, “Di mana aku sekarang?” Tapi itu hanyalah sebuah pertanyaan dalam hati yang tak bisa kulontarkan untuk orang lain karena hanya ada aku di dalam kamar. Beberapa menit berlalu.Aku masih bingung dengan semua keadaan ini. Aku masih belum menyadari di mana diriku sekarang.
Aku mencoba menampar pelan pipi kananku,
...plaakkk...
“Oh... Ini bukan mimpi”, pikirku.
Aku mencoba untuk diam. Aku berusaha untuk menemukan kesadaranku kembali. Tak mampu pikiranku menyadari keberadaanku, aku mencoba untuk melangkahkan kaki. Aku membuka korden yang menutupi jendela tepat 2 meter di samping tempat tidurku.

“Barangkali ketika aku membuka jendela ini, aku tau di mana aku berdiri sekarang ”, pikirku dalam hati.

....kreeeeekkkkk....

Aku membuka korden di salah satu sisi jendela. Ada sesuatu yang aneh. Aku melihat ada  bangunan yang tingi, jalan, sungai, jembatan dan mobil-mobil yang sedang berkeliaran bebas.
“Kenapa aku seperti berada di atas semua hal yang kulihat?”, aku berpikir, meyakinkan diriku akan keberadaanku sekarang.
Aku tau ini bukan kamar yang ada di rumahku. Aku sadar ini bukan kamar yang biasa aku gunakan untuk melepas lelahku. Aku putuskan untuk duduk di kursi yang ada di samping jendela. Aku melihat ada foto ayah dan ibuku di meja tepat di di depan tempat dudukku sekarang.

“Aku yakin kursi dan meja ini bukan milikku, tapi kenapa ada foto kedua orang tuaku?”,protesku dalam hati.

 Sempat aku marah dalam diriku. Diatas meja itu juga terdapat gelas berwarna hitam. Aku tau gelas itu adalah gelas yang sama dengan yang dimiliki oleh mantan pacarku. Tapi kenapa semua benda milikku berada di kamar ini? Sejenak aku diam. Aku mencoba (lagi) untuk mengingat di mana aku sekarang. Aku melihat di sekeliling kamar ini. Aku melihat ada kain putih panjang berbentuk baju yang tergantung di samping lemari.

“Tunggu.....Bukankah itu jubah? Jubah yang biasa dipakai oleh Pastor dan calon Pastor?Kenapa ada di kamar ini?” pekikku dalam hati.

Aku mencoba untuk mencari handphone kesanyanganku. Mungkin aku bisa menghubungi seseorang untuk bertanya sesuatu atau hal lain yang bisa kulakukan untuk mengusir kegelisahanku ini.Setelah berberapa lama berusaha mencari handphone itu, aku tak bisa menemukannya. Aneh, hal ini jarang terjadi. Jarang sekali dan bahkan hampir tidak pernah aku meninggalkan handphone ku semenit saja (kecuali saat mandi sihhh). Aku heran kenapa aku tidak menemukannya saat ini. Aku selalu menaruhnya di samping bantal ketika aku tidur. Aku sudah muak dengan keanehan ini.
Aku berusaha untuk tenang. Sudah ada tiga keanehan yang aku alami di pagi ini. Pertama, aku tidak tidur di kamarku sendiri. Kedua, aku menemukan jubah yang aku tak tau siapa pemiliknya. Ketiga, aku tak menemukan handphoneku.

“Apa yang terjadi ya Tuhan?” ratapku dalam hati.
Aku melakukan usaha yang lain. Aku menuju pintu kamar, kubuka pelan pintu itu, dan.......

***
....Brukk....
“Auuuu....shit......”
“Ternyata aku hanya mimpi”, syukurku dalam hati.

Kebingungan yang kualami hanyalah sebuah mimpi. Aku tak pernah merasa bingung dengan keadaanku yang sekarang. Aku tau posisiku sekarang. Aku tau di mana aku meletakkan tubuhku sekarang. Aku mencoba membuka jendela agar sinar matahari bisa masuk dalam kamar baruku. Setelah itu aku duduk di kursi baruku dan melihat foto ayah dan ibuku yang ada di atas meja baruku. Aku juga mengambil gelas yang ada di atas meja baruku itu.
Banyak orang yang mengatakan bahwa apa yang kupegang sekarang adalah mug bunglon atau apalah istilahnya aku tidak peduli. Yang jelas, ketika terkena air panas, gelas yang berwarna hitam ini akan memunculkan gambar dan warna. Aku jadi ingat sesuatu. Gelas yang kumiliki ini juga dimiliki oleh mantan pacarku. Aku memberikannya sewaktu kami masih pacaran.
Stop......
Ok.
Ada hal yang terlupakan.
Siapa aku?





AKU YANG DULU...

21 tahun yang lalu, 27 November 1994 aku terlahir dengan nama lengkap Fendi Hadi Saputro.  Saat datang ke dunia ini aku tidak mengerti apapun, maka aku tidak bisa meminta namaku menjadi Justin Bieber, James Bond atau bahkan Aliando. Meski begitu aku bangga memiliki tampang yang tidak jauh berbeda dengan mereka (gubraaaaakkkkk). Aku memiliki kedua orang tua yang sangat sayang padaku. Mereka lah yang membimbingku menjadi seorang lelaki yang tampan. WHAT????
Ya, menjadi tampan adalah impian para lelaki. Kecuali diriku. Aku tak menginginkan ketampanan yang tampak dari luar (saja). Namun aku menginginkan sebuah ketampanan yang datangnya dari dalam sehingga memancar keluar dengan aura yang terbawa dalam setiap senyuman manisku (kata-kata yang datangnya dari Roh Kudus).
Aku biasa dipanggil ‘Fendi’ oleh teman-teman yang baru mengenal diriku. Berbeda dengan mereka yang telah mengenalku beberapa waktu lamanya. ‘Pendoel’ adalah sapaan akrab mereka kepadaku. Panggilan sayang ini lahir karena ketika duduk di bangku TK. Entah apa yang penyebabnya. Sejauh yang kuingat, nama itu berawal dari potongan rambutku yang selalu ‘gundul’. Nah, untuk mengingat namaku dengan mudah, meraka memanggilku ‘pendoel’. Nama sayang itu terus terbawa hingga SD, SMP, SMA bahkan hingga sekarang.
Aku adalah seorang Jawa yang memegang erat budaya Eropa (inilah pembelaan ketika ada orang yang menyebutku ‘wong ndeso’). Nasi goreng dan soda gembira adalah teman yang menemaniku ketika aku makan. Bisa dikatakan, itu ma-fa dan mi-fa diriku (kata orang zaman sekarang). Meskipun aku suka makan, badanku tak terlalu gendut. Bahkan aku bisa dikatakan memiliki tubuh yang proporsional, tinggi 173cm dan berat badan 70kg.
Eitssss...
Tunggu...
Emang bener kayak gitu????
Dilihat dari angka memang  terkesan proporsional. Namun diriku memiliki berbagai macam kelebihan. (termasuk kelebihan berat badan. Hal itu tidak berpengaruh kepada diriku (sama sekali). Aku masih bisa menjadi seorang yang penuh ide dan bisa berekspresi seperti orang-orang pada umumnya. Buktinya, aku pernah menjadi seorang penjaga gawang terbaik. Bukan bermaksud sombong, tapi biar semua orang tau kalu aku punya kelebihan. (hahaha). Aku juga memiliki suara bakat di bidang tarik suara (bernyanyi), tarik perut (makan) dan tarik iler (tidur). Ya, aku bangga akan kelebihan yang aku miliki.
Aku memiliki kisah cinta yang tak kalah dengan lelaki pada umumnya. Aku juga pernah menjadi idola di sekolah. Meskipun gak banyak, tapi aku bangga. Aku bangga. Aku bangga. Aku bangga. Saking bangganya diriku, tak ada orang yang mengetahui bahwa aku sebenarnya orang yang lemah dalam cinta. Aku sering mati rasa karena cinta. Aku menjadi seorang penyair mendadak ketika diputus cinta. Oh...betapa malang diriku.
Sok Puitis.
Puitis bukanlah diriku. Aku lebih to the point dalam berkata. Akibatnya, mereka yang pernah kusukai juga memiliki sifat yang sama, yaitu to the point dalam menolak cintaku. Oh... Betapa malang diriku. Sungguh ironis ketika diriku dihadapkan pada situasi di mana aku harus mengatakan cinta. Seakan diriku lemah. Begini contohnya,
Suatu ketika aku sedang berjalan-jalan di taman. Bayangkan saja taman itu banyak bunganya, diwarnai dengan kupu-kupu yang terbang diatas hamparan bunga itu. Aku duduk di bangku pojok taman yang kusukai. Bukan tanpa alasan, namun menunggu sang priimadona hati seorang pencinta sejati seperti diriku ini. Tak lama aku duduk, aku melihat seorang wanita cantik berbaju kuning, celana jeans. Sungguh casual. Rambutnya yang digerai membuat jantungku berdegup kencang.

“Hai Fen”, sapanya dengan nada yang sangaaaaat lembut.
“...”, aku diam.
“Fen?”, sapanya kembali. Aku terbius akan pesona kecantikan dirinya. Tak sadar bahwa aku dipanggilnya sebanyak dua kali.
“eh i.i.ya”, kikuk aku menjawabnya.
“Kamu gak apa-apa kan fen?”, tanyanya penuh perhatian.
“Gak kok, aku cuma lagi bingung”, jawabku sekenanya.
“Bingung kenapa?”, tanyanya kembali.
“Tuhan memberiku bidadari yang tidak pernah kuminta.”, begitu kataku  sekenanya.
“Fen, kenpa sih kamu ngajak aku ke tempat ini?”, sahutnya padaku.
“Aku suka sama kamu. Pacaran yuk”, lontarku dengan penuh percaya diri.
“...”
Tik...tok..
1 menit
5 menit
“Heey, kok kamu diam?”, tanyaku penasaran.
“Fen, maaf ya. Bukannya aku gak mau terima cintamu. Tapi, aku baru saja jadian dengan ....”

Penolakan-penolakan cinta itu sering aku dapatkan dengan berbagai cerita dan cara penolakan yang dilakukan oleh si doi. Tapi, aku tidak pernah menyerah dengan keadaan itu. Sebagai sang petualang cinta.#*%$%#$, aku selalu berusaha mencari ‘dia’yang tepat untuk menjadi kekasih hatiku.
Bukan itu yang penting.
Aku hanya ingin mengatakan bahwa dalam diriku masih terdapat cinta yang besar untuk siapapun yang ingin memintanya dariku. Aku siap. Kriteria luar tidak terlalu menjadi masalah. Kebaikan hati terlampau jauh melewati keindahan luar yang hanya bisa dilihat oleh indera dan bukan mata hati. Memang terlihat kolot, namun itu menjadi pondasi yang kuat untuk mempertahankan ketulusan dan kedalaman cinta.
Aku bukanlah orang yang suka bermain cinta. Tapi, cinta sering mempermainkan perasaanku.
Mengapa jadi bicara soal cinta???
Tapi tak apalah. Cinta tak akan pernah habis untuk diceritakan. Cinta menyimpan berjuta arti dan makna, yang jauh melebihi kata-kata. Mungkin ketika berbicara masalah cinta, kata “pacar” menjadi tolok ukur seseorang bisa memiliki cinta. Padahal ‘pacar’ hanyalah sebatas status yang tak pernah kentara perbuatannya.
Aku memiliki sorang teman yang berpacaran selama 5 tahun.
Sungguh ironi. Aku tak pernah mencicipi waktu pacaran selama itu...
Mereka saling mencintai. Namun karena satu salah paham saja, mereka berpisah. (bahkan mungkin sampai sekarang). Hal itu tak pernah menjadi keinginanku. Apa gunanya menjalin hubungan yang tidak memiliki arah yang baik. Maka itu, dulu aku tak pernah memiliki banyak pacar (mungkin sampai sekarang kalau aku total ada, 10 mantan)
Wah... gila... gak banyak dari mananya coba???
Sebagai ‘artis’ di sekolah, untuk mendapatkan ‘cinta’ itu bukanlah hal yang sulit. Tinggal ngomong, jadi deh.
Itu aku yang dulu, kehidupan yang penuh makna, prestasi dalam cinta dan semua gejolak yang pernah aku rasakan. Semua itu terasa manis ketika aku bisa membingkainya dalam sehajarah diriku. Aku adalah pelaku dari sejarahku sendiri.

***
Saat ini berbeda.
Eits...
Berbeda???
Manusia super?
Kehidupanku berubah sedemikian rupa ketika aku memasuki dunia SMA. Saat di mana kata banyak orang merupakan masa-masa terindah.
WHAAT????? Indah dari mana coba???
Seperti  yang sudah aku katakan, keindahan tidak tercipta hanya karena aku bisa memiliki seorang ‘pacar’. Aku baru menyadari itu, tapi takbisa sepenuhnya. Ketika SMA lah, aku bisa mengerti kedalaman cinta, bagaimana dan mengapa aku bisa memiliki cinta dan bebas memberikan cinta itu, pada siapapun...

1 komentar:

Panorama Pendidikan Indonesia

GENERASI EMAS MELAWAN PRAGMATISME PENDIDIKAN PENDAHULUAN: Wajah Pendidikan di Era Pragmatis             Beberapa waktu yang lalu, me...