Kamis, 01 Maret 2018

Bijak Ber-vaksinasi


BIJAK BER-VAKSINASI
Refleksi Filosofis Pro dan Kontra Vaksinasi di Indonesia dari Sudut Pandang Pragmatisme William James

Oleh: Fendi Hadi Saputro (Filsafat)

Vaksin dan Faktanya
            Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa sampai dengan November 2017 kasus Difteri telah terjadi di 95 Kabupaten/ Kota dari 20 Provinsi. Dalam kurun waktu Oktober hingga November di tahun yang sama, 11 Provinsi melaporkan adanya KLB Difteri di beberapa wilayah, yaitu Sumatera Barat, Jawa Tengah, Aceh, Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Riau, Banten DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Timur. [1] Dari data yang telah terolah oleh Kementerian Kesehatan itu, diketahui sedikitnya 38 orang meninggal dari 590 kasus yang ditemukan.
            Direktur Surveillance dan Karantina Kesehatan Kemenkes, Elizabeth Jane Soepardi, menyebutkan bahwa KLB Difteri ditengarai adanya imunisasi tak lengkap.[2] Data lain diperoleh dari Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Aman Bhakti Pulungan Aman mengatakan ada masalah sistem imunisasi yang salah di Indonesia sehingga wabah ini terjadi kembali.[3] Untuk menangani kasus Difteri yang semakin menyebar, Kemenkes melakukan imunisasi segera (Outbreak Response Immunization - ORI)  secara serentak di 3 provinsi, yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten.[4] Kota-kota besar yang dipilih menjadi rasional mengingat padatnya penduduk yang memungkinkan adanya penyebaran yang lebih cepat dibanding kota-kota dengan kepadatan penduduk rendah.
            Persoalan vaksinasi ini juga diramaikan dengan tagar #AyoKitaVaksin. Seperti yang dilakukan oleh @ratnaillahi yang memberikan ilustrasi tentang pentingnya vaksinasi untuk pencegahan penularannya. Tak hanya pihak pro-vaksin, kelompok kontra-vaksin pun bermunculan, tak ubahnya dari dalil-dalil islam. Pro dan kontra penggunaan vaksin guna mencegah menularnya penyakit difteri nampaknya masih menjadi perdebatan hingga sekarang.
            Dari berbagai macam fakta tentang vaksinasi di Inonesia, penulis berusaha menemukan persoalan mendasar mengenai vaksin dengan pemikiran Pragmatisme William James untuk membedahnya.

Apa itu Vaksin?
            Vaksin seperti yang kita ketahui berasal dari bahasa Latin vacca dan vaccinia (cacar sapi). Secara harafiah, vaksin dapat diartikan sebagai bahan antigenetik yang digunakan untuk menghasilakan kekebalan aktif terhadap suatu penyakit sehingga dapat mencegah atau mengurangi pengaruh infeksi oleh organisme alami ataqu liar.[5] Dalam arti yang lebih sederhana, vaksin adalah virus/ bakteri yang dapat merangsang imunitas (antibodi) dari sistem imun dalam tubuh.[6]
            Vaksin dapat berupa galur virus atau bakteri yang telah dilemahkan sehingga tidak menimbulkan penyakit. Karena terbuat dari kuman, komponen kuman, atau racun kuman yang telah dilemahkan atau dimatikan, pemberian vaksin akan merangsang tubuh untuk menciptakan suatu antibodi untuk melawan penyakit.[7] Selain dapat menjaga tubuh dari patogen tertentu seperti bakteri, virus atau toksin, vaksin juga mampu membentuk sistem kekebalan untuk melawan sel-sel degeneratif (kanker).[8]
            Jenis-jenis vaksin antara lain:[9] Live attenuated vaccine yaitu vaksin hidup yang dibuat dari bakteri atau virus yang sudah dilemahkan daya virulensinya dengan cara kultur dan perlakuan yang berulang, namun masiha mampu menimbulkan reaksi imunologi yang mirip dengan infeksi ilmiah ( vaksin polio/ sabin, vaksin MMR, vaksin TBC, vaksin demam tifoid, vaksin campak, gondongan, dan cacar air/ varisela). Inactivated Vaccine (Killed Vaccine) yaitu vaksin yang dibuat dari bakteri atau virus yang dimatikan dengan zat kimia (formaldehid) atau dengan pemanasan, dapat berupa seluruh bagian dari bakteri atau virus, atau bagian dari bakteri atau virus atau toksoidnya saja. Sifat vaksin inactivated vaccine (vaksin rabies, vaksin influenza, vaksin polio/ salk, vaksin pneumonia pneumokokal, vaksin kolera, vaksin pertusis, dan vaksin demam tifoid). Vaksin Toksoid yaitu yang dibuat dari beberapa jenis bakteri yang menimbulkan penyakit dengan memasukkan racun dilemahkan ke dalam aliran darah. Bahan bersifat imunogenik yang dibuat dari toksin kuman ( vaksin difteri, tetanus). Vaksin Acellular dan Subunit yaitu dibuat dari bagian tertentu dalam virus atau bakteri dengan melakukan kloning dari gen virus atau bakteri melalui rekombinasi DNA, vaksin vektor virus dan vaksin antiidiotipe.
            Apapun jenis dari vaksin itu, tujuan dari pemeberian vaksin tidaklah berbeda yaitu menstimulasi reaksi kekebalan tanpa menimbulkan penyakit.

Sekilas Mengenai Pragmatisme William James
            William James lahir di New York pada tahun 1842. Memiliki minat lukis, psikologi dan sempat belajar kesehatan di Universitas Harvard. Pemikirannya mengenai pragmatisme pertama-tama dikenalkan lewat ceramahnya “Philosophical Conceptions and Practical Result”.[10] Konsepnya mengenai pragmatisme dapat diterapkan dalam semua pengalaman dan keprihatinan hidup, bukan hanya sebagai sebuah teori.
            Bagi James, pragmatisme adalah metode untuk memecahkan perdebatan metafisik yang tiada hentinya. Usahanya adalah menginterpretasikan setiap gagasan dengan mencari konsekuensi praktis dari setiap gagasan yang muncul.[11] Dengan metode ini, James tidak hendak memihak hasil akhir tertentu. Pragmatisme ini bukan sebagai dogma tertentu, namun sebagai metode. Kecenderungan filsafat yang idealistis, intelektualistis, monistis, indeterminis, sensasionalistis (terderminded dan toughminded), mencoba dikritisi oleh James. James berusaha berada di jalan tengah, yaitu suatu pandangan instrumental tentang pikiran sebagai suatu pengarah pada tindakan yang akan datang.[12]
            James mengatakan bahwa kebenaran terjadi pada sebuah ide. Menjadi benar dan dibuat benar oleh karena peristiwa, terverivikasi dalam fakta, sebuah proses. Verifikasi itu tentu memiliki konsekuensi praktis dimana ide sesuai dengan realitas dan tidak ada kontradiksi di antaranya. Salah satu istilah terkenalnya adalah bahwa dunia menunggu sentuhan tangan manusia yang membentuknya.[13] Pragmatisme James lebih bersifat pluralistik,  artinya tidak memihak salah satu namun memperhatikan konsekuensi praktis atas tindakan manusia sebagai usaha untum membentuk dunia.

Bijak Ber-vaksinasi
            Argumen pro-vaksin mengatakan bahwa mencegah lebih baik dari pada mengobati. Ibu yang hamil dengan membawa virus Toksoplasma, Rubella atau Hepatitis B bisa diberuikan vaksin agar tidak menular kapada keturunannya. Vaksin penting dilakukan untuk mencegah penyakit inveksi 9berkembang menjadi wabah seperti kolera, difteri dan polio. Meskipun kekebalan tubuh sudah ada, manusia hidup di lingkungan yang kurang sehat, sehingga perlu vaksin. Efek membahayakan dari vaksin bisa ditangani dengan tanggap terhadap jenis vaksin yang akan diberkan.
            Argumen kontra vaksin mengatakan bahwa vaksin haram karena menggunakan media kera, babi, virus haram yang dipakai secara syariat. Ada unsur ketidak halalan dari produk vaksin itu sendiri. Efek samping yang membahayakan karena mengandung mercuri, thimerosal, aluminium, benzetonium klorida dll. Efek samping lebih banyak daripada manfaat yang diperoleh. Kekebalan tubuh setiap orag cukup, tinggal menjaga dan merawat. Banyak fakta menunjukkan kondisi setelah imuniasasi atau vaksinasi memprihatinkan dari pada sebelum pemberian. Menyangsikan keamanan dan efektivitas vaksin. Yang paling parah adalah anggapan bahwa vaksinasi merupakan konspirasi korporat guna meraup untung dari masyarakat.
            Dari kedua argumen mengenai vaksinasi dapat dilihat betapa setiap orang mengusahakan yang terbaik bagi hidupnya. Pemerintah melalui Kemenkes telah berupaya menangani penyakit difteri dengan menggunakan vaksin. Beberapa daerah juga menggunakan vaksin untuk proses penyembuhan vaksin. Terlepas dari hasilnya, usaha-usaha itu diupayakan untuk kehidupan manusia. Kepentingan hidup manusia kiranya menjadi bahasan yang lebih essensial dari pada memperdebatkan persoalan kehalalan atau yang lain. Ketika manusia menjadi dasar, akar yang fundamental dari suatu persoalan, hendaknya perdebatan yang lain dihindari.
            Bijak ber-vaksinasi memuat unsur kebebasan untuk memilih. Salah satu aspek ke-manusia-an adalah kebebasannya. Kebebasan manusia bersifat mutlak dan hanya dibatasi oleh kebebasan manusia yang lain. Dalam hal ini, manusia bebas untuk menentukkan sikap dan memilih. Vaksin hanya satu dari berbagai macam upaya untuk mempertahankan kehidupan.
            Dalam pragmatisme James dapat dilihat bahwa setiap tindakan manusia pasti memikirkan konsekuensi praktis atasnya. Vaksinasi yang dianjurkan oleh pemerintah tentu memiliki tujuan praktis yaitu mencegah terjadinya penyebaran penyakit difteri yang menggetarkan masyarakat akhir-akhir ini. Vaksinasi sebagai usaha mencegah terjadinya penyebaran penyakit tidaklah salah, bahkan sangat berguna membantu manusia mempertahankan hidupnya. Tapi tak boleh dilupakan aspek kebebasan manusia yang boleh berdiri di tengah, bijak untuk menentukan dirinya. Tentu manusia harus memikirkan konsekuensi dari apa yang dipilihnya. Pilihan itu bukan semata-mata mengikuti argumen pro dan kontra tentang vaksinasi. Pilihan itu tentu harus didasarkan pada alasan yang rasional. Setiap pilihan yang rasional selalu diikuti pertanggungjawaban yang rasional pula.
            Dari persoalan mengenai vaksinasi di Indonesia ini, penulis hendak merenungkan lebih jauh dari sekedar memihak pro atau kontra ke dalam refleksi kritis dan memikirkan konsekuensi dari pilihan-pilihan eksistensial. Persoalan vaksinasi di Indonesia bukan soal halal atau tidak, baik atau tidak, efisien atau tidak, namun bijak menentukan pilihan sehingga setiap ‘pemilih’ bertanggungjawab terhadap pilihannya.


DAFTAR  PUSTAKA

Sumber Buku
Adinda, Anastasia Jessica, Menelusuri Pragmatisme, Kanisius, Yogyakarta 2015.
James, William, Pragmatism, Vintage Books, New York, 1907.

Sumber Internet

www.depkes.go.id (Pada Hari Minggu, 10 Desember 2017, PK. 18.30)
https://gaya.tempo.co (Pada hari Senin, 26 Februari 2018, Pk. 18.05)
https://www.cnnindonesia.com (Pada hari Minggu, 25 Februari 2018, Pk. 17.50)
http://infoimunisasi.com (Pada Hari Senin, 26 Februari 2018, PK. 18.00)
https://www.kompasiana.com (Pada hari Sabtu, 24 Februari 2018, Pk.15.00)



[1] Diunduh dari www.depkes.go.id (Pada Hari Minggu, 10 Desember 2017, PK. 18.30)
[2] Diunduh dari https://gaya.tempo.co (Pada hari Senin, 26 Februari 2018, Pk. 18.05)
[3] Ibid.
[4] Diunduh dari https://www.cnnindonesia.com (Pada hari Minggu, 25 Februari 2018, Pk. 17.50)
[5] Diunduh dari http://infoimunisasi.com (Pada Hari Senin, 26 Februari 2018, PK. 18.00)
[6] Diunduh dari https://www.kompasiana.com (Pada hari Sabtu, 24 Februari 2018, Pk. 15.00)
[8] Ibid.
[9] Ibid.
[10] Anastasia Jessica Adinda, Menelusuri Pragmatisme, Kanisius, Yogyakarta 2015, 20.
[11] Ibid., 21.
[12] William James, Pragmatism, Vintage Books, New York, 1907, 94.
[13] Ibid., 96.

Panorama Pendidikan Indonesia

GENERASI EMAS MELAWAN PRAGMATISME PENDIDIKAN PENDAHULUAN: Wajah Pendidikan di Era Pragmatis             Beberapa waktu yang lalu, me...