BIJAK BER-VAKSINASI
Refleksi Filosofis Pro dan Kontra Vaksinasi
di Indonesia dari Sudut Pandang Pragmatisme William James
Oleh: Fendi Hadi Saputro (Filsafat)
Vaksin dan Faktanya
Data
Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa sampai dengan November 2017 kasus
Difteri telah terjadi di 95 Kabupaten/ Kota dari 20 Provinsi. Dalam kurun waktu
Oktober hingga November di tahun yang sama, 11 Provinsi melaporkan adanya KLB
Difteri di beberapa wilayah, yaitu Sumatera Barat, Jawa Tengah, Aceh, Sumatera
Selatan, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Riau, Banten DKI Jakarta, Jawa
Barat, dan Jawa Timur. [1]
Dari data yang telah terolah oleh Kementerian Kesehatan itu, diketahui sedikitnya
38 orang meninggal dari 590 kasus yang ditemukan.
Direktur
Surveillance dan Karantina Kesehatan Kemenkes, Elizabeth Jane Soepardi,
menyebutkan bahwa KLB Difteri ditengarai adanya imunisasi tak lengkap.[2]
Data lain diperoleh dari Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Aman Bhakti
Pulungan Aman mengatakan ada masalah sistem imunisasi yang salah di Indonesia
sehingga wabah ini terjadi kembali.[3]
Untuk menangani kasus Difteri yang semakin menyebar, Kemenkes melakukan imunisasi
segera (Outbreak Response Immunization - ORI) secara serentak di 3 provinsi, yaitu DKI Jakarta, Jawa
Barat dan Banten.[4]
Kota-kota besar yang dipilih menjadi rasional mengingat padatnya penduduk yang
memungkinkan adanya penyebaran yang lebih cepat dibanding kota-kota dengan
kepadatan penduduk rendah.
Persoalan
vaksinasi ini juga diramaikan dengan tagar #AyoKitaVaksin. Seperti yang
dilakukan oleh @ratnaillahi yang memberikan ilustrasi tentang pentingnya
vaksinasi untuk pencegahan penularannya. Tak hanya pihak pro-vaksin, kelompok
kontra-vaksin pun bermunculan, tak ubahnya dari dalil-dalil islam. Pro dan
kontra penggunaan vaksin guna mencegah menularnya penyakit difteri nampaknya
masih menjadi perdebatan hingga sekarang.
Dari
berbagai macam fakta tentang vaksinasi di Inonesia, penulis berusaha menemukan
persoalan mendasar mengenai vaksin dengan pemikiran Pragmatisme William James
untuk membedahnya.
Apa itu Vaksin?
Vaksin
seperti yang kita ketahui berasal dari bahasa Latin vacca dan vaccinia (cacar
sapi). Secara harafiah, vaksin dapat diartikan sebagai bahan antigenetik yang
digunakan untuk menghasilakan kekebalan aktif terhadap suatu penyakit sehingga
dapat mencegah atau mengurangi pengaruh infeksi oleh organisme alami ataqu
liar.[5]
Dalam arti yang lebih sederhana, vaksin adalah virus/ bakteri yang dapat
merangsang imunitas (antibodi) dari sistem imun dalam tubuh.[6]
Vaksin
dapat berupa galur virus atau bakteri yang telah dilemahkan sehingga tidak
menimbulkan penyakit. Karena terbuat dari kuman, komponen kuman, atau racun
kuman yang telah dilemahkan atau dimatikan, pemberian vaksin akan merangsang
tubuh untuk menciptakan suatu antibodi untuk melawan penyakit.[7]
Selain dapat menjaga tubuh dari patogen tertentu seperti bakteri, virus atau
toksin, vaksin juga mampu membentuk sistem kekebalan untuk melawan sel-sel degeneratif
(kanker).[8]
Jenis-jenis
vaksin antara lain:[9] Live attenuated vaccine yaitu vaksin
hidup yang dibuat dari bakteri atau virus yang sudah dilemahkan daya
virulensinya dengan cara kultur dan perlakuan yang berulang, namun masiha mampu
menimbulkan reaksi imunologi yang mirip dengan infeksi ilmiah ( vaksin polio/
sabin, vaksin MMR, vaksin TBC, vaksin demam tifoid, vaksin campak, gondongan,
dan cacar air/ varisela). Inactivated
Vaccine (Killed Vaccine) yaitu vaksin yang dibuat dari bakteri atau virus
yang dimatikan dengan zat kimia (formaldehid) atau dengan pemanasan, dapat
berupa seluruh bagian dari bakteri atau virus, atau bagian dari bakteri atau
virus atau toksoidnya saja. Sifat vaksin inactivated vaccine (vaksin rabies, vaksin
influenza, vaksin polio/ salk, vaksin pneumonia pneumokokal, vaksin kolera,
vaksin pertusis, dan vaksin demam tifoid). Vaksin
Toksoid yaitu yang dibuat dari beberapa jenis bakteri yang menimbulkan
penyakit dengan memasukkan racun dilemahkan ke dalam aliran darah. Bahan
bersifat imunogenik yang dibuat dari toksin kuman ( vaksin difteri, tetanus). Vaksin Acellular dan Subunit yaitu dibuat
dari bagian tertentu dalam virus atau bakteri dengan melakukan kloning dari gen
virus atau bakteri melalui rekombinasi DNA, vaksin vektor virus dan vaksin
antiidiotipe.
Apapun
jenis dari vaksin itu, tujuan dari pemeberian vaksin tidaklah berbeda yaitu
menstimulasi reaksi kekebalan tanpa menimbulkan penyakit.
Sekilas Mengenai Pragmatisme William James
William
James lahir di New York pada tahun 1842. Memiliki minat lukis, psikologi dan
sempat belajar kesehatan di Universitas Harvard. Pemikirannya mengenai
pragmatisme pertama-tama dikenalkan lewat ceramahnya “Philosophical Conceptions and Practical Result”.[10]
Konsepnya mengenai pragmatisme dapat diterapkan dalam semua pengalaman dan
keprihatinan hidup, bukan hanya sebagai sebuah teori.
Bagi
James, pragmatisme adalah metode untuk memecahkan perdebatan metafisik yang
tiada hentinya. Usahanya adalah menginterpretasikan setiap gagasan dengan
mencari konsekuensi praktis dari setiap gagasan yang muncul.[11]
Dengan metode ini, James tidak hendak memihak hasil akhir tertentu. Pragmatisme
ini bukan sebagai dogma tertentu, namun sebagai metode. Kecenderungan filsafat
yang idealistis, intelektualistis, monistis, indeterminis, sensasionalistis
(terderminded dan toughminded), mencoba dikritisi oleh James. James berusaha
berada di jalan tengah, yaitu suatu pandangan instrumental tentang pikiran
sebagai suatu pengarah pada tindakan yang akan datang.[12]
James
mengatakan bahwa kebenaran terjadi pada sebuah ide. Menjadi benar dan dibuat
benar oleh karena peristiwa, terverivikasi dalam fakta, sebuah proses.
Verifikasi itu tentu memiliki konsekuensi praktis dimana ide sesuai dengan
realitas dan tidak ada kontradiksi di antaranya. Salah satu istilah terkenalnya
adalah bahwa dunia menunggu sentuhan tangan manusia yang membentuknya.[13]
Pragmatisme James lebih bersifat pluralistik,
artinya tidak memihak salah satu namun memperhatikan konsekuensi praktis
atas tindakan manusia sebagai usaha untum membentuk dunia.
Bijak Ber-vaksinasi
Argumen
pro-vaksin mengatakan bahwa mencegah lebih baik dari pada mengobati. Ibu yang
hamil dengan membawa virus Toksoplasma, Rubella atau Hepatitis B bisa
diberuikan vaksin agar tidak menular kapada keturunannya. Vaksin penting
dilakukan untuk mencegah penyakit inveksi 9berkembang menjadi wabah seperti
kolera, difteri dan polio. Meskipun kekebalan tubuh sudah ada, manusia hidup di
lingkungan yang kurang sehat, sehingga perlu vaksin. Efek membahayakan dari
vaksin bisa ditangani dengan tanggap terhadap jenis vaksin yang akan diberkan.
Argumen
kontra vaksin mengatakan bahwa vaksin haram karena menggunakan media kera,
babi, virus haram yang dipakai secara syariat. Ada unsur ketidak halalan dari
produk vaksin itu sendiri. Efek samping yang membahayakan karena mengandung
mercuri, thimerosal, aluminium, benzetonium klorida dll. Efek samping lebih
banyak daripada manfaat yang diperoleh. Kekebalan tubuh setiap orag cukup,
tinggal menjaga dan merawat. Banyak fakta menunjukkan kondisi setelah
imuniasasi atau vaksinasi memprihatinkan dari pada sebelum pemberian.
Menyangsikan keamanan dan efektivitas vaksin. Yang paling parah adalah anggapan
bahwa vaksinasi merupakan konspirasi korporat guna meraup untung dari
masyarakat.
Dari
kedua argumen mengenai vaksinasi dapat dilihat betapa setiap orang mengusahakan
yang terbaik bagi hidupnya. Pemerintah melalui Kemenkes telah berupaya
menangani penyakit difteri dengan menggunakan vaksin. Beberapa daerah juga
menggunakan vaksin untuk proses penyembuhan vaksin. Terlepas dari hasilnya,
usaha-usaha itu diupayakan untuk kehidupan manusia. Kepentingan hidup manusia
kiranya menjadi bahasan yang lebih essensial dari pada memperdebatkan persoalan
kehalalan atau yang lain. Ketika manusia menjadi dasar, akar yang fundamental
dari suatu persoalan, hendaknya perdebatan yang lain dihindari.
Bijak
ber-vaksinasi memuat unsur kebebasan untuk memilih. Salah satu aspek
ke-manusia-an adalah kebebasannya. Kebebasan manusia bersifat mutlak dan hanya
dibatasi oleh kebebasan manusia yang lain. Dalam hal ini, manusia bebas untuk
menentukkan sikap dan memilih. Vaksin hanya satu dari berbagai macam upaya
untuk mempertahankan kehidupan.
Dalam
pragmatisme James dapat dilihat bahwa setiap tindakan manusia pasti memikirkan
konsekuensi praktis atasnya. Vaksinasi yang dianjurkan oleh pemerintah tentu
memiliki tujuan praktis yaitu mencegah terjadinya penyebaran penyakit difteri
yang menggetarkan masyarakat akhir-akhir ini. Vaksinasi sebagai usaha mencegah
terjadinya penyebaran penyakit tidaklah salah, bahkan sangat berguna membantu
manusia mempertahankan hidupnya. Tapi tak boleh dilupakan aspek kebebasan
manusia yang boleh berdiri di tengah, bijak untuk menentukan dirinya. Tentu
manusia harus memikirkan konsekuensi dari apa yang dipilihnya. Pilihan itu
bukan semata-mata mengikuti argumen pro dan kontra tentang vaksinasi. Pilihan
itu tentu harus didasarkan pada alasan yang rasional. Setiap pilihan yang
rasional selalu diikuti pertanggungjawaban yang rasional pula.
Dari
persoalan mengenai vaksinasi di Indonesia ini, penulis hendak merenungkan lebih
jauh dari sekedar memihak pro atau kontra ke dalam refleksi kritis dan
memikirkan konsekuensi dari pilihan-pilihan eksistensial. Persoalan vaksinasi
di Indonesia bukan soal halal atau tidak, baik atau tidak, efisien atau tidak,
namun bijak menentukan pilihan sehingga setiap ‘pemilih’ bertanggungjawab
terhadap pilihannya.
DAFTAR PUSTAKA
Sumber Buku
Adinda,
Anastasia Jessica, Menelusuri Pragmatisme,
Kanisius, Yogyakarta 2015.
James,
William, Pragmatism, Vintage Books,
New York, 1907.
Sumber Internet
www.depkes.go.id
(Pada Hari Minggu, 10 Desember 2017, PK. 18.30)
https://gaya.tempo.co
(Pada hari Senin, 26 Februari 2018, Pk. 18.05)
https://www.cnnindonesia.com
(Pada hari Minggu, 25 Februari 2018, Pk. 17.50)
http://infoimunisasi.com
(Pada Hari Senin, 26 Februari 2018, PK. 18.00)
https://www.kompasiana.com
(Pada hari Sabtu, 24 Februari 2018, Pk.15.00)
[1] Diunduh dari www.depkes.go.id (Pada Hari Minggu, 10
Desember 2017, PK. 18.30)
[2] Diunduh dari https://gaya.tempo.co (Pada hari Senin, 26
Februari 2018, Pk. 18.05)
[3] Ibid.
[4] Diunduh dari https://www.cnnindonesia.com (Pada hari
Minggu, 25 Februari 2018, Pk. 17.50)
[5] Diunduh dari http://infoimunisasi.com
(Pada Hari Senin, 26 Februari 2018, PK. 18.00)
[6] Diunduh dari https://www.kompasiana.com (Pada hari
Sabtu, 24 Februari 2018, Pk. 15.00)
[8]
Ibid.
[9]
Ibid.
[11]
Ibid., 21.
[12]
William James, Pragmatism, Vintage
Books, New York, 1907, 94.
[13]
Ibid., 96.