MAKNA ‘JANCOK’ DALAM BUDAYA ‘AREK SUROBOYO’
Refleksi
Filosofis atas Subjektivisme Nilai Alfred
J. Ayer
Fendi
Hadi Saputro
PENGANTAR
“Cok, yo opo kabare? Apik ta?”
“ Kabarku apik cok. Kon yo opo?”
“…”
Dalam Bahasa Indonesia, percakapan itu berarti, “ Hai, bagaimana kabarnya? Baik kan?”, “Kabarku baik, kamu bagaimana?”. Percakapan
di atas sangat akrab terdengar di telinga orang-orang yang pernah singgah di
Surabaya. Percakapan yang mungkin terdengar asing, bahkan tidak sopan bagi
orang-orang di wilayah Jawa Tengah yang notabene hidup dalam adat istiadat
kejawen. Akan tetapi, ‘cok’ dalam budaya ‘Arek Suroboyo’ bukanlah hal yang kasar,
tidak sopan, bahkan sangat biasa digunakan dalam bahasa sehari-hari.
Bahasa adalah salah satu cara untuk menyampaikan apa yang
ada di pikiran manusia. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Bahasa
merupakan (1) sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang digunakan oleh anggota
suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan
diri, (2) percakapan (perkataan) yang biak; tingkah laku yang baik; sopan
santun.[1] Setiap tempat tentunya
memiliki bahasa yang berbeda-beda karena dipengaruhi oleh wilayah, peradaban
dan faktor lain yang membedakannya.
Begitu pula dengan Bahasa Surabaya yang lazim
dipercakapkan setiap harinya, khususnya kata ‘jancok’. Kata
“Jancok”, adalah
kata yang tabu digunakan
oleh masyarakat Pulau Jawa secara umum. Alasan utamanya adalah mengandung unsur negatif dan
tidak sopan.
Namun, penduduk Surabaya dan sekitarnya menggunakan kata tersebut dalam
Bahasa sehari-hari. ‘Jancok’ menjadi suatu tanda identitas komunitas mereka. Kata
“Jancok” memiliki perubahan makna ameliorasi[2],
bahkan digunakan sebagai kata sapaan ‘wajib
untuk memanggil ‘teman akrab.
‘Jancok’
memiliki makna yang berbeda ketika
diterapkan di Surabaya. Makna atau nilai yang terkandung dalam bahasa
tergantung dari subjek yang menafsirkannya. Dengan demikian bahasa, khususnya ‘jancok’, memiliki arti yang subjektif.
Subjektivitas nilai menjadi perhatian khusus filsuf Inggris Alfred J. Ayer.
Baginya, pertimbangan nilai menegaskan keberadaan suasana batin tertentu,
misalnya persetujuan atas nilai manusia, alam dan lain-lain.[3] Nilai adalah suatu
ungkapan perasaan yang tidak bisa dinilai benar atau salah karena tergantung
dari siapa yang merasakannya.
Oleh karena itu, penulis ingin menyajikan suatu pemikiran
kritis terhadap Makna ‘Jancok’ dalam
Budaya ‘Arek Suroboyo’ dan ditinjau
dari sudut pandang subjektivisme nilai Alfred J. Ayer.
[2] Ameliorasi adalah perubahan makna suatu kata yang membuat kata tersebut
menjadi lebih sopan, lebih halus dari kata yang digunakan sebelumnya. (Diunduh
dari https://dosenbahasa.com Pada Hari
Jumat, 23 Maret 2018, Pk. 18.00 WIB)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar