Selasa, 17 April 2018

Filsafat Nilai

MAKNA ‘JANCOK’ DALAM BUDAYA ‘AREK SUROBOYO
Refleksi Filosofis atas Subjektivisme Nilai Alfred J. Ayer
Fendi Hadi Saputro 

PENGANTAR
            “Cok, yo opo kabare? Apik ta?”
“ Kabarku apik cok. Kon yo opo?”
“…”
            Dalam Bahasa Indonesia, percakapan itu berarti, “ Hai, bagaimana kabarnya? Baik kan?”, “Kabarku baik, kamu bagaimana?”. Percakapan di atas sangat akrab terdengar di telinga orang-orang yang pernah singgah di Surabaya. Percakapan yang mungkin terdengar asing, bahkan tidak sopan bagi orang-orang di wilayah Jawa Tengah yang notabene hidup dalam adat istiadat kejawen. Akan tetapi, ‘cok’ dalam budaya ‘Arek Suroboyo’ bukanlah hal yang kasar, tidak sopan, bahkan sangat biasa digunakan dalam bahasa sehari-hari.
            Bahasa adalah salah satu cara untuk menyampaikan apa yang ada di pikiran manusia. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Bahasa merupakan  (1) sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri, (2) percakapan (perkataan) yang biak; tingkah laku yang baik; sopan santun.[1] Setiap tempat tentunya memiliki bahasa yang berbeda-beda karena dipengaruhi oleh wilayah, peradaban dan faktor lain yang membedakannya.
            Begitu pula dengan Bahasa Surabaya yang lazim dipercakapkan setiap harinya, khususnya kata ‘jancok’. Kata “Jancok, adalah kata yang tabu digunakan oleh masyarakat Pulau Jawa secara umum. Alasan utamanya adalah mengandung unsur negatif dan tidak sopan. Namun, penduduk Surabaya dan sekitarnya menggunakan kata tersebut dalam Bahasa sehari-hari. ‘Jancok menjadi suatu tanda  identitas komunitas mereka.  Kata “Jancok” memiliki perubahan makna ameliorasi[2], bahkan digunakan sebagai kata sapaan ‘wajib untuk memanggil ‘teman akrab.
            ‘Jancok’ memiliki  makna yang berbeda ketika diterapkan di Surabaya. Makna atau nilai yang terkandung dalam bahasa tergantung dari subjek yang menafsirkannya. Dengan demikian bahasa, khususnya ‘jancok’, memiliki arti yang subjektif. Subjektivitas nilai menjadi perhatian khusus filsuf Inggris Alfred J. Ayer. Baginya, pertimbangan nilai menegaskan keberadaan suasana batin tertentu, misalnya persetujuan atas nilai manusia, alam dan lain-lain.[3] Nilai adalah suatu ungkapan perasaan yang tidak bisa dinilai benar atau salah karena tergantung dari siapa yang merasakannya.
            Oleh karena itu, penulis ingin menyajikan suatu pemikiran kritis terhadap Makna ‘Jancok’ dalam Budaya ‘Arek Suroboyo’ dan ditinjau dari sudut pandang subjektivisme nilai Alfred J. Ayer.



[1] Diunduh dari https://kbbi.we.id/bahasa.html (Pada Hari Rabu, 21 Maret 2018, Pk. 17.00 WIB)
[2] Ameliorasi adalah perubahan makna suatu kata yang membuat kata tersebut menjadi lebih sopan, lebih halus dari kata yang digunakan sebelumnya. (Diunduh dari https://dosenbahasa.com Pada Hari Jumat, 23 Maret 2018, Pk. 18.00 WIB)
[3] Risieri Frondzi, Pengantar Filsafat Nilai, Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2011, hal. 77.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Panorama Pendidikan Indonesia

GENERASI EMAS MELAWAN PRAGMATISME PENDIDIKAN PENDAHULUAN: Wajah Pendidikan di Era Pragmatis             Beberapa waktu yang lalu, me...