Selasa, 17 April 2018

Panorama Pendidikan Indonesia

GENERASI EMAS MELAWAN PRAGMATISME PENDIDIKAN

PENDAHULUAN: Wajah Pendidikan di Era Pragmatis
            Beberapa waktu yang lalu, media massa ramai memberitakan tentang penyelewengan peraihan gelar pascasarjana. Beberapa praktisi Universitas Negeri Manado (Unima) beraudiensi dengan Ombudsman RI tentang keabsahan perolehan gelar doktor Rektor Unima Julyeta Paulina Amelia Runtuwene.[1] Peraihan gelar doktor itu disangsikan dan dugaan kuat plagiasi perolehan gelar.
            Media lain menyebutkan peristiwa serupa di program pascasarjana Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Nur Alam, Gubernur Sulawesi Tenggara dituding melakukan plagiasi untuk mendapatkan gelar doktoral.[2] Lebih parahnya lagi, empat nama lain yang tersangkut kasus plagiasi serupa adalah bawahannya sendiri dalam pemerintahan provinsi Sulawesi Tenggara. Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenrisetdikti) mengeluarkan rekomendasi untuk membebas tugaskan Prof. Djaali, Rektor UNJ karena tidak tegas terhadap kecurangan perolehan gelar doktor pada program pascasarjana.[3]
Wajah pendidikan di era pragmatis seperti sekarang ini sungguh memprihatinkan. Dua kisah plagiasi perolehan gelar doktoral di atas menarik untuk dikaji terutama karena terjadi di tingkat tertinggi struktur pendidikan di Indonesia (pascasarjana). Andaiannya, hanya mereka yang memiliki kemampuan akademik cukup mumpuni saja yang dapat menempuh pendidikan pascasarjana. Tapi mengapa mereka yang sebenarnya memiliki kemampuan secara akademis masih juga melakukan kecurangan yang sangat tabu dalam dunia pendidikan karena mencederai kredibilitas kemampuan seseorang?
Secara sangat sederhana, ketika berhadapan dengan fakta plagiasi, dunia pendidikan dapat berkelit bahwa sistem telah berjalan dengan baik, namun ada beberapa oknum yang melakukan kecurangan. Akan tetapi, apakah mungkin plagiasi terjadi “sendirian” tanpa ada celah dalam sistem pendidikan?
Ketika gelar akademik menjadi ukuran tunggal bagi keberhasilan dalam segala bidang pekerjaan, pendidikan memang akan menjadi tempat yang sangat menarik perhatian. Semua orang akan berlomba-lomba memperoleh gelar setinggi-tingginya. Di sisi lain, sexinya dunia pendidikan juga memberi peluang yang menggiurkan bagi setiap lembaga pendidikan untuk berlomba-lomba menjadi yang terbaik dengan lulusan yang sebanyak-banyaknya. Bahkan sebisa mungkin lembaga pendidikan menjadi almamater bagi tokoh-tokoh publik. 
Demikianlah, gerak transaksional kehidupan akademik berjalan sedemikian rupa. Di satu sisi semua mahasiswa ingin secepatnya memperoleh gelar, di sisi lain, lembaga pendidikan ingin secepatnya dan sebanyak mungkin meluluskan mahasiswa. Akibatnya, ciri transaksional dan pragmatisme melanda dunia pendidikan. Orientasi dalam pendidikan yang pragmatis ialah mencetak pekerja-pekerja yang dapat terserap di pasar bebas[4] serta lembaga-lembaga publik yang populer sehingga nilai tawar universitas naik. Bila nilai tawar universitas naik, universitas akan kebanjiran peminat. Selain memperoleh popularitas, posisi universitas akan memperoleh nilai ekonomi yang berlipat ganda. Akhirnya, nilai-nilai kemanusiaan yang awalnya menjadi tujuan pendidikan disingkirkan demi tercapainya orientasi kepentingan praktis yang lebih berciri materialis.

ISI: Menuju Generasi Emas           
            Pendidikan, nyatanya, tidak menjadi fokus utama pemerintah saat ini. Pada tahun 2017, Kemenrisetdikti hanya mendapat jatuah 39,7 triliun, dan hampir sama dengan Kemendikbud yang mendapat jatah 39,8 triliun.[5] dari keseluruhan dana APBN.[6] Total anggaran yang didapat Kemenrisetdikti dan Kemendikbud tidak kalah dengan anggaran yang diterima oleh Kementerian Pertahanan dan Kementerian PUPR yang mencapai angka 100 triliun.
Anggaran infrastruktur, dalam APBN pada tahun ini naik hingga 123,4%.[7] Pendidikan Tinggi sangat terpengaruh dari output Pendidikan Dasar, karena dari sanalah para gelar pendidikan itu bisa didapatkan. Gelar itu ambil bagian besar dalam pekerjaan. Pendidikan yang transaksional seperti ini sudah seharusnya mendapat perhatian lebih dari pemerintah, agar tidak menjadi lading transaksional yang berujung pada uang semata. Generasi Emas macam apa yang ingin mau diciptakan saat ini ketika pendidikan bukanlah suatu prioritas?
            Pendidikan memiliki peran sentral dalam membentuk karakter manusia. Karakter tidak bisa dibentuk sedemikian rupa dalam waktu yang singkat, sehingga cakap dalam menghadapi situasi sosial masyarakat. Karakter hendaknya dibentuk sejak dini agar terbentuk pribadi-pribadi yang siap menghadapi situasi konkret. Karakter manusia dibentuk dari keutamaan-keutamaan dalam hidup. Aristoteles, dalam buku Nicomachean Ethics berkata bahwa keutamaan itu dibentuk dengan habituasi, sehingga memunculkan karakter-karakter yang baik.[8] Ada dua keutamaan dalam diri manusia, yaitu keutamaan moral dan keutamaan intelektual. Keutamaan menuntun seseorang untuk mengembangkan sebuah sikap atau watak yang dimilikinya.[9] Tapi, bagaimana mungkin Generasi Emas Indonesia bisa bertahan di era pragmatis yang juga melanda dunia pendidikan?
Tujuan hakiki dari pendidikan ialah membangun sikap hidup yang demokratis, dan menjadi penentu majunya suatu negara.[10] Pendidikan merupakan kunci keberhasilan dan mampu menunjukkan eksistensi suatu negara. Meski demikian, pendidikan yang baik hanya akan terjadi bila negara dan pemerintahannya mengagungkan pendidikan sebagai pengejawantahan hak asasi manusia.[11] Dalam hal ini, pendidikan harus benar-benar menjadi prioritas pemerintah.
            Ketika pendidikan menjadi prioritas suatu negara, institusi pendidikan harus membangun kredibilitasnya dan tidak hanya dipandang sebagai suatu instansi transaksional. Untuk itu, kebijakan-kebijakan yang diambil oleh Lembaga Pendidikan haruslah transparan. Transparansi ini sudah semestinya ditunjang oleh hadirnya ruang-ruang kritis dari siapapun yang terlibat sebagai anggota civitas academika. Dalam hal ini, kredibilitas dibangun, ditunjang oleh pembelajaran demokrasi yang terstruktur. Sudah semestinya Lembaga Pendidikan menjadi tempat pembelajaran demokrasi, yang terbuka terhadap kritik dan selalu bersedia diperbaharui.

PENUTUP: Melawan Pragmatisme dengan Pendidikan Karakter
Dalam kacamata Paulo Freire, pendidikan adalah kebutuhan dasar (basic need) hidup manusia.[12] Kebutuhan dasar ini dibutuhkan agar manusia bisa melangsungkan hidupnya tanpa ada pembodohan dari orang lain. Dalam pengertian yang lebih luas, pendidikan bertujuan untuk memberikan kemerdekaan kepada manusia dalam mempertahankan hidupnya. Ketika pendidikan hanya dipandang sebagai usaha mencetak kaum muda yang mampu bersaing dalam dunia bisnis, maka karaktern mereka pun akanbisa ditebak.
Pendidikan sebagai upaya mencerdaskan kehidupan bangsa adalah cita-cita Indonesia pasca kemerdekaan yang tertuang dalam Undang-undang Dasar 1945. Pendidikan bukan alat untuk mencari uang semata, namun sebagai wajah negara yang edukatif. Dengan maksimalisasi pendidikan karakter diharapkan dapat mencetak kaum muda yang tidak hanya edukatif namun juga santun dan berperilaku baik. Pendidikan karakter menjadi kunci untuk melawan pragmatisme pendidikan dan membawa optimalisasi kaum muda untuk menyongsong Indonesia Emas 2045.  

Daftar Pustaka

Adinda, Anastasia Jessica Menelusuri Pragmatisme, Kanisius, Yogyakarta             2015.
Aristotle, The Nicomachean Ethics (Ed. Tom Griffth), Wordsworth Classics of World Literature, Hertfordshire 1996.
Harian Kompas, Kasus Unima, Pendidikan dan Kebudayaan, Selasa, 26     September 2017, hal. 12.
Yunus, Firdaus M., Pendidikan Berbasis Realitas Sosial:  Paulo Freire, Y.B. Mangunwijaya, Logung Pustaka, Yogyakarta 2004.



Sumber Internet
http://www.portaledukasi.com (Pada hari Senin, 2 Oktober 2017, Pk. 18.00 WIB)
https://tirto.id (Pada hari Senin, 2 Oktober 2017, Pk. 17.10 WIB)
https://www.kemenkeu.go.id (Pada hari Senin, 2 Oktober 2017, Pk. 17.00 WIB)
http://www.pikiran-rakyat.com (Pada hari Senin, 2 Oktober 2017, Pk. 20.00 WIB)
https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis  (Pada hari Selasa, 3 Oktober 2017, Pk. 21.00 WIB)





[1] Harian Kompas, Kasus Unima, Pendidikan dan Kebudayaan, Selasa, 26 September 2017, hal. 12.
[2] Diunduh dari https://tirto.id/temuan-plagiat-disertasi-di-universitas-negeri-jakarta-cvrZ (Pada hari Senin, 2 Oktober 2017, Pk. 16.50 WIB)
[3] Diunduh dari  https://tirto.id/diduga-terlibat-plagiasi-rektor-unj-diberhentikan-sementara-cxkz (Pada hari Senin, 2 Oktober 2017, Pk. 16.55 WIB)
[4] Anastasia Jessica Adinda, Menelusuri Pragmatisme, Kanisius, Yogyakarta 2015, 35.
[5] Diunduh dari https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis  (Pada hari Selasa, 3 Oktober 2017, Pk. 21.00 WIB)
[6] Diunduh dari  https://www.kemenkeu.go.id (Pada hari Selasa, 3 Oktober 2017, Pk. 20.05 WIB).
[8] Aristotle, The Nicomachean Ethics (Ed. Tom Griffth), Wordsworth Classics of World Literature, Hertfordshire 1996, Book II i-1
[9]Ibid.,Book II vi-4.
[10] Ibid., 33.
[11] Diunduh dari http://www.portaledukasi.com/2017/01/perbandingan-pendidikan-jerman-perancis.html (Pada hari Senin, 2 Oktober 2017, Pk. 18.00 WIB)
[12] Firdaus M. Yunus, Pendidikan Berbasis Realitas Sosial:  Paulo Freire, Y.B. Mangunwijaya, Logung Pustaka,        Yogyakarta 2004, 7.

Filsafat Nilai

MAKNA ‘JANCOK’ DALAM BUDAYA ‘AREK SUROBOYO
Refleksi Filosofis atas Subjektivisme Nilai Alfred J. Ayer
Fendi Hadi Saputro 

PENGANTAR
            “Cok, yo opo kabare? Apik ta?”
“ Kabarku apik cok. Kon yo opo?”
“…”
            Dalam Bahasa Indonesia, percakapan itu berarti, “ Hai, bagaimana kabarnya? Baik kan?”, “Kabarku baik, kamu bagaimana?”. Percakapan di atas sangat akrab terdengar di telinga orang-orang yang pernah singgah di Surabaya. Percakapan yang mungkin terdengar asing, bahkan tidak sopan bagi orang-orang di wilayah Jawa Tengah yang notabene hidup dalam adat istiadat kejawen. Akan tetapi, ‘cok’ dalam budaya ‘Arek Suroboyo’ bukanlah hal yang kasar, tidak sopan, bahkan sangat biasa digunakan dalam bahasa sehari-hari.
            Bahasa adalah salah satu cara untuk menyampaikan apa yang ada di pikiran manusia. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Bahasa merupakan  (1) sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri, (2) percakapan (perkataan) yang biak; tingkah laku yang baik; sopan santun.[1] Setiap tempat tentunya memiliki bahasa yang berbeda-beda karena dipengaruhi oleh wilayah, peradaban dan faktor lain yang membedakannya.
            Begitu pula dengan Bahasa Surabaya yang lazim dipercakapkan setiap harinya, khususnya kata ‘jancok’. Kata “Jancok, adalah kata yang tabu digunakan oleh masyarakat Pulau Jawa secara umum. Alasan utamanya adalah mengandung unsur negatif dan tidak sopan. Namun, penduduk Surabaya dan sekitarnya menggunakan kata tersebut dalam Bahasa sehari-hari. ‘Jancok menjadi suatu tanda  identitas komunitas mereka.  Kata “Jancok” memiliki perubahan makna ameliorasi[2], bahkan digunakan sebagai kata sapaan ‘wajib untuk memanggil ‘teman akrab.
            ‘Jancok’ memiliki  makna yang berbeda ketika diterapkan di Surabaya. Makna atau nilai yang terkandung dalam bahasa tergantung dari subjek yang menafsirkannya. Dengan demikian bahasa, khususnya ‘jancok’, memiliki arti yang subjektif. Subjektivitas nilai menjadi perhatian khusus filsuf Inggris Alfred J. Ayer. Baginya, pertimbangan nilai menegaskan keberadaan suasana batin tertentu, misalnya persetujuan atas nilai manusia, alam dan lain-lain.[3] Nilai adalah suatu ungkapan perasaan yang tidak bisa dinilai benar atau salah karena tergantung dari siapa yang merasakannya.
            Oleh karena itu, penulis ingin menyajikan suatu pemikiran kritis terhadap Makna ‘Jancok’ dalam Budaya ‘Arek Suroboyo’ dan ditinjau dari sudut pandang subjektivisme nilai Alfred J. Ayer.



[1] Diunduh dari https://kbbi.we.id/bahasa.html (Pada Hari Rabu, 21 Maret 2018, Pk. 17.00 WIB)
[2] Ameliorasi adalah perubahan makna suatu kata yang membuat kata tersebut menjadi lebih sopan, lebih halus dari kata yang digunakan sebelumnya. (Diunduh dari https://dosenbahasa.com Pada Hari Jumat, 23 Maret 2018, Pk. 18.00 WIB)
[3] Risieri Frondzi, Pengantar Filsafat Nilai, Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2011, hal. 77.

Panorama Pendidikan Indonesia

GENERASI EMAS MELAWAN PRAGMATISME PENDIDIKAN PENDAHULUAN: Wajah Pendidikan di Era Pragmatis             Beberapa waktu yang lalu, me...