Selasa, 17 April 2018

Panorama Pendidikan Indonesia

GENERASI EMAS MELAWAN PRAGMATISME PENDIDIKAN

PENDAHULUAN: Wajah Pendidikan di Era Pragmatis
            Beberapa waktu yang lalu, media massa ramai memberitakan tentang penyelewengan peraihan gelar pascasarjana. Beberapa praktisi Universitas Negeri Manado (Unima) beraudiensi dengan Ombudsman RI tentang keabsahan perolehan gelar doktor Rektor Unima Julyeta Paulina Amelia Runtuwene.[1] Peraihan gelar doktor itu disangsikan dan dugaan kuat plagiasi perolehan gelar.
            Media lain menyebutkan peristiwa serupa di program pascasarjana Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Nur Alam, Gubernur Sulawesi Tenggara dituding melakukan plagiasi untuk mendapatkan gelar doktoral.[2] Lebih parahnya lagi, empat nama lain yang tersangkut kasus plagiasi serupa adalah bawahannya sendiri dalam pemerintahan provinsi Sulawesi Tenggara. Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenrisetdikti) mengeluarkan rekomendasi untuk membebas tugaskan Prof. Djaali, Rektor UNJ karena tidak tegas terhadap kecurangan perolehan gelar doktor pada program pascasarjana.[3]
Wajah pendidikan di era pragmatis seperti sekarang ini sungguh memprihatinkan. Dua kisah plagiasi perolehan gelar doktoral di atas menarik untuk dikaji terutama karena terjadi di tingkat tertinggi struktur pendidikan di Indonesia (pascasarjana). Andaiannya, hanya mereka yang memiliki kemampuan akademik cukup mumpuni saja yang dapat menempuh pendidikan pascasarjana. Tapi mengapa mereka yang sebenarnya memiliki kemampuan secara akademis masih juga melakukan kecurangan yang sangat tabu dalam dunia pendidikan karena mencederai kredibilitas kemampuan seseorang?
Secara sangat sederhana, ketika berhadapan dengan fakta plagiasi, dunia pendidikan dapat berkelit bahwa sistem telah berjalan dengan baik, namun ada beberapa oknum yang melakukan kecurangan. Akan tetapi, apakah mungkin plagiasi terjadi “sendirian” tanpa ada celah dalam sistem pendidikan?
Ketika gelar akademik menjadi ukuran tunggal bagi keberhasilan dalam segala bidang pekerjaan, pendidikan memang akan menjadi tempat yang sangat menarik perhatian. Semua orang akan berlomba-lomba memperoleh gelar setinggi-tingginya. Di sisi lain, sexinya dunia pendidikan juga memberi peluang yang menggiurkan bagi setiap lembaga pendidikan untuk berlomba-lomba menjadi yang terbaik dengan lulusan yang sebanyak-banyaknya. Bahkan sebisa mungkin lembaga pendidikan menjadi almamater bagi tokoh-tokoh publik. 
Demikianlah, gerak transaksional kehidupan akademik berjalan sedemikian rupa. Di satu sisi semua mahasiswa ingin secepatnya memperoleh gelar, di sisi lain, lembaga pendidikan ingin secepatnya dan sebanyak mungkin meluluskan mahasiswa. Akibatnya, ciri transaksional dan pragmatisme melanda dunia pendidikan. Orientasi dalam pendidikan yang pragmatis ialah mencetak pekerja-pekerja yang dapat terserap di pasar bebas[4] serta lembaga-lembaga publik yang populer sehingga nilai tawar universitas naik. Bila nilai tawar universitas naik, universitas akan kebanjiran peminat. Selain memperoleh popularitas, posisi universitas akan memperoleh nilai ekonomi yang berlipat ganda. Akhirnya, nilai-nilai kemanusiaan yang awalnya menjadi tujuan pendidikan disingkirkan demi tercapainya orientasi kepentingan praktis yang lebih berciri materialis.

ISI: Menuju Generasi Emas           
            Pendidikan, nyatanya, tidak menjadi fokus utama pemerintah saat ini. Pada tahun 2017, Kemenrisetdikti hanya mendapat jatuah 39,7 triliun, dan hampir sama dengan Kemendikbud yang mendapat jatah 39,8 triliun.[5] dari keseluruhan dana APBN.[6] Total anggaran yang didapat Kemenrisetdikti dan Kemendikbud tidak kalah dengan anggaran yang diterima oleh Kementerian Pertahanan dan Kementerian PUPR yang mencapai angka 100 triliun.
Anggaran infrastruktur, dalam APBN pada tahun ini naik hingga 123,4%.[7] Pendidikan Tinggi sangat terpengaruh dari output Pendidikan Dasar, karena dari sanalah para gelar pendidikan itu bisa didapatkan. Gelar itu ambil bagian besar dalam pekerjaan. Pendidikan yang transaksional seperti ini sudah seharusnya mendapat perhatian lebih dari pemerintah, agar tidak menjadi lading transaksional yang berujung pada uang semata. Generasi Emas macam apa yang ingin mau diciptakan saat ini ketika pendidikan bukanlah suatu prioritas?
            Pendidikan memiliki peran sentral dalam membentuk karakter manusia. Karakter tidak bisa dibentuk sedemikian rupa dalam waktu yang singkat, sehingga cakap dalam menghadapi situasi sosial masyarakat. Karakter hendaknya dibentuk sejak dini agar terbentuk pribadi-pribadi yang siap menghadapi situasi konkret. Karakter manusia dibentuk dari keutamaan-keutamaan dalam hidup. Aristoteles, dalam buku Nicomachean Ethics berkata bahwa keutamaan itu dibentuk dengan habituasi, sehingga memunculkan karakter-karakter yang baik.[8] Ada dua keutamaan dalam diri manusia, yaitu keutamaan moral dan keutamaan intelektual. Keutamaan menuntun seseorang untuk mengembangkan sebuah sikap atau watak yang dimilikinya.[9] Tapi, bagaimana mungkin Generasi Emas Indonesia bisa bertahan di era pragmatis yang juga melanda dunia pendidikan?
Tujuan hakiki dari pendidikan ialah membangun sikap hidup yang demokratis, dan menjadi penentu majunya suatu negara.[10] Pendidikan merupakan kunci keberhasilan dan mampu menunjukkan eksistensi suatu negara. Meski demikian, pendidikan yang baik hanya akan terjadi bila negara dan pemerintahannya mengagungkan pendidikan sebagai pengejawantahan hak asasi manusia.[11] Dalam hal ini, pendidikan harus benar-benar menjadi prioritas pemerintah.
            Ketika pendidikan menjadi prioritas suatu negara, institusi pendidikan harus membangun kredibilitasnya dan tidak hanya dipandang sebagai suatu instansi transaksional. Untuk itu, kebijakan-kebijakan yang diambil oleh Lembaga Pendidikan haruslah transparan. Transparansi ini sudah semestinya ditunjang oleh hadirnya ruang-ruang kritis dari siapapun yang terlibat sebagai anggota civitas academika. Dalam hal ini, kredibilitas dibangun, ditunjang oleh pembelajaran demokrasi yang terstruktur. Sudah semestinya Lembaga Pendidikan menjadi tempat pembelajaran demokrasi, yang terbuka terhadap kritik dan selalu bersedia diperbaharui.

PENUTUP: Melawan Pragmatisme dengan Pendidikan Karakter
Dalam kacamata Paulo Freire, pendidikan adalah kebutuhan dasar (basic need) hidup manusia.[12] Kebutuhan dasar ini dibutuhkan agar manusia bisa melangsungkan hidupnya tanpa ada pembodohan dari orang lain. Dalam pengertian yang lebih luas, pendidikan bertujuan untuk memberikan kemerdekaan kepada manusia dalam mempertahankan hidupnya. Ketika pendidikan hanya dipandang sebagai usaha mencetak kaum muda yang mampu bersaing dalam dunia bisnis, maka karaktern mereka pun akanbisa ditebak.
Pendidikan sebagai upaya mencerdaskan kehidupan bangsa adalah cita-cita Indonesia pasca kemerdekaan yang tertuang dalam Undang-undang Dasar 1945. Pendidikan bukan alat untuk mencari uang semata, namun sebagai wajah negara yang edukatif. Dengan maksimalisasi pendidikan karakter diharapkan dapat mencetak kaum muda yang tidak hanya edukatif namun juga santun dan berperilaku baik. Pendidikan karakter menjadi kunci untuk melawan pragmatisme pendidikan dan membawa optimalisasi kaum muda untuk menyongsong Indonesia Emas 2045.  

Daftar Pustaka

Adinda, Anastasia Jessica Menelusuri Pragmatisme, Kanisius, Yogyakarta             2015.
Aristotle, The Nicomachean Ethics (Ed. Tom Griffth), Wordsworth Classics of World Literature, Hertfordshire 1996.
Harian Kompas, Kasus Unima, Pendidikan dan Kebudayaan, Selasa, 26     September 2017, hal. 12.
Yunus, Firdaus M., Pendidikan Berbasis Realitas Sosial:  Paulo Freire, Y.B. Mangunwijaya, Logung Pustaka, Yogyakarta 2004.



Sumber Internet
http://www.portaledukasi.com (Pada hari Senin, 2 Oktober 2017, Pk. 18.00 WIB)
https://tirto.id (Pada hari Senin, 2 Oktober 2017, Pk. 17.10 WIB)
https://www.kemenkeu.go.id (Pada hari Senin, 2 Oktober 2017, Pk. 17.00 WIB)
http://www.pikiran-rakyat.com (Pada hari Senin, 2 Oktober 2017, Pk. 20.00 WIB)
https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis  (Pada hari Selasa, 3 Oktober 2017, Pk. 21.00 WIB)





[1] Harian Kompas, Kasus Unima, Pendidikan dan Kebudayaan, Selasa, 26 September 2017, hal. 12.
[2] Diunduh dari https://tirto.id/temuan-plagiat-disertasi-di-universitas-negeri-jakarta-cvrZ (Pada hari Senin, 2 Oktober 2017, Pk. 16.50 WIB)
[3] Diunduh dari  https://tirto.id/diduga-terlibat-plagiasi-rektor-unj-diberhentikan-sementara-cxkz (Pada hari Senin, 2 Oktober 2017, Pk. 16.55 WIB)
[4] Anastasia Jessica Adinda, Menelusuri Pragmatisme, Kanisius, Yogyakarta 2015, 35.
[5] Diunduh dari https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis  (Pada hari Selasa, 3 Oktober 2017, Pk. 21.00 WIB)
[6] Diunduh dari  https://www.kemenkeu.go.id (Pada hari Selasa, 3 Oktober 2017, Pk. 20.05 WIB).
[8] Aristotle, The Nicomachean Ethics (Ed. Tom Griffth), Wordsworth Classics of World Literature, Hertfordshire 1996, Book II i-1
[9]Ibid.,Book II vi-4.
[10] Ibid., 33.
[11] Diunduh dari http://www.portaledukasi.com/2017/01/perbandingan-pendidikan-jerman-perancis.html (Pada hari Senin, 2 Oktober 2017, Pk. 18.00 WIB)
[12] Firdaus M. Yunus, Pendidikan Berbasis Realitas Sosial:  Paulo Freire, Y.B. Mangunwijaya, Logung Pustaka,        Yogyakarta 2004, 7.

Filsafat Nilai

MAKNA ‘JANCOK’ DALAM BUDAYA ‘AREK SUROBOYO
Refleksi Filosofis atas Subjektivisme Nilai Alfred J. Ayer
Fendi Hadi Saputro 

PENGANTAR
            “Cok, yo opo kabare? Apik ta?”
“ Kabarku apik cok. Kon yo opo?”
“…”
            Dalam Bahasa Indonesia, percakapan itu berarti, “ Hai, bagaimana kabarnya? Baik kan?”, “Kabarku baik, kamu bagaimana?”. Percakapan di atas sangat akrab terdengar di telinga orang-orang yang pernah singgah di Surabaya. Percakapan yang mungkin terdengar asing, bahkan tidak sopan bagi orang-orang di wilayah Jawa Tengah yang notabene hidup dalam adat istiadat kejawen. Akan tetapi, ‘cok’ dalam budaya ‘Arek Suroboyo’ bukanlah hal yang kasar, tidak sopan, bahkan sangat biasa digunakan dalam bahasa sehari-hari.
            Bahasa adalah salah satu cara untuk menyampaikan apa yang ada di pikiran manusia. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Bahasa merupakan  (1) sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri, (2) percakapan (perkataan) yang biak; tingkah laku yang baik; sopan santun.[1] Setiap tempat tentunya memiliki bahasa yang berbeda-beda karena dipengaruhi oleh wilayah, peradaban dan faktor lain yang membedakannya.
            Begitu pula dengan Bahasa Surabaya yang lazim dipercakapkan setiap harinya, khususnya kata ‘jancok’. Kata “Jancok, adalah kata yang tabu digunakan oleh masyarakat Pulau Jawa secara umum. Alasan utamanya adalah mengandung unsur negatif dan tidak sopan. Namun, penduduk Surabaya dan sekitarnya menggunakan kata tersebut dalam Bahasa sehari-hari. ‘Jancok menjadi suatu tanda  identitas komunitas mereka.  Kata “Jancok” memiliki perubahan makna ameliorasi[2], bahkan digunakan sebagai kata sapaan ‘wajib untuk memanggil ‘teman akrab.
            ‘Jancok’ memiliki  makna yang berbeda ketika diterapkan di Surabaya. Makna atau nilai yang terkandung dalam bahasa tergantung dari subjek yang menafsirkannya. Dengan demikian bahasa, khususnya ‘jancok’, memiliki arti yang subjektif. Subjektivitas nilai menjadi perhatian khusus filsuf Inggris Alfred J. Ayer. Baginya, pertimbangan nilai menegaskan keberadaan suasana batin tertentu, misalnya persetujuan atas nilai manusia, alam dan lain-lain.[3] Nilai adalah suatu ungkapan perasaan yang tidak bisa dinilai benar atau salah karena tergantung dari siapa yang merasakannya.
            Oleh karena itu, penulis ingin menyajikan suatu pemikiran kritis terhadap Makna ‘Jancok’ dalam Budaya ‘Arek Suroboyo’ dan ditinjau dari sudut pandang subjektivisme nilai Alfred J. Ayer.



[1] Diunduh dari https://kbbi.we.id/bahasa.html (Pada Hari Rabu, 21 Maret 2018, Pk. 17.00 WIB)
[2] Ameliorasi adalah perubahan makna suatu kata yang membuat kata tersebut menjadi lebih sopan, lebih halus dari kata yang digunakan sebelumnya. (Diunduh dari https://dosenbahasa.com Pada Hari Jumat, 23 Maret 2018, Pk. 18.00 WIB)
[3] Risieri Frondzi, Pengantar Filsafat Nilai, Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2011, hal. 77.

Kamis, 01 Maret 2018

Bijak Ber-vaksinasi


BIJAK BER-VAKSINASI
Refleksi Filosofis Pro dan Kontra Vaksinasi di Indonesia dari Sudut Pandang Pragmatisme William James

Oleh: Fendi Hadi Saputro (Filsafat)

Vaksin dan Faktanya
            Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa sampai dengan November 2017 kasus Difteri telah terjadi di 95 Kabupaten/ Kota dari 20 Provinsi. Dalam kurun waktu Oktober hingga November di tahun yang sama, 11 Provinsi melaporkan adanya KLB Difteri di beberapa wilayah, yaitu Sumatera Barat, Jawa Tengah, Aceh, Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Riau, Banten DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Timur. [1] Dari data yang telah terolah oleh Kementerian Kesehatan itu, diketahui sedikitnya 38 orang meninggal dari 590 kasus yang ditemukan.
            Direktur Surveillance dan Karantina Kesehatan Kemenkes, Elizabeth Jane Soepardi, menyebutkan bahwa KLB Difteri ditengarai adanya imunisasi tak lengkap.[2] Data lain diperoleh dari Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Aman Bhakti Pulungan Aman mengatakan ada masalah sistem imunisasi yang salah di Indonesia sehingga wabah ini terjadi kembali.[3] Untuk menangani kasus Difteri yang semakin menyebar, Kemenkes melakukan imunisasi segera (Outbreak Response Immunization - ORI)  secara serentak di 3 provinsi, yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten.[4] Kota-kota besar yang dipilih menjadi rasional mengingat padatnya penduduk yang memungkinkan adanya penyebaran yang lebih cepat dibanding kota-kota dengan kepadatan penduduk rendah.
            Persoalan vaksinasi ini juga diramaikan dengan tagar #AyoKitaVaksin. Seperti yang dilakukan oleh @ratnaillahi yang memberikan ilustrasi tentang pentingnya vaksinasi untuk pencegahan penularannya. Tak hanya pihak pro-vaksin, kelompok kontra-vaksin pun bermunculan, tak ubahnya dari dalil-dalil islam. Pro dan kontra penggunaan vaksin guna mencegah menularnya penyakit difteri nampaknya masih menjadi perdebatan hingga sekarang.
            Dari berbagai macam fakta tentang vaksinasi di Inonesia, penulis berusaha menemukan persoalan mendasar mengenai vaksin dengan pemikiran Pragmatisme William James untuk membedahnya.

Apa itu Vaksin?
            Vaksin seperti yang kita ketahui berasal dari bahasa Latin vacca dan vaccinia (cacar sapi). Secara harafiah, vaksin dapat diartikan sebagai bahan antigenetik yang digunakan untuk menghasilakan kekebalan aktif terhadap suatu penyakit sehingga dapat mencegah atau mengurangi pengaruh infeksi oleh organisme alami ataqu liar.[5] Dalam arti yang lebih sederhana, vaksin adalah virus/ bakteri yang dapat merangsang imunitas (antibodi) dari sistem imun dalam tubuh.[6]
            Vaksin dapat berupa galur virus atau bakteri yang telah dilemahkan sehingga tidak menimbulkan penyakit. Karena terbuat dari kuman, komponen kuman, atau racun kuman yang telah dilemahkan atau dimatikan, pemberian vaksin akan merangsang tubuh untuk menciptakan suatu antibodi untuk melawan penyakit.[7] Selain dapat menjaga tubuh dari patogen tertentu seperti bakteri, virus atau toksin, vaksin juga mampu membentuk sistem kekebalan untuk melawan sel-sel degeneratif (kanker).[8]
            Jenis-jenis vaksin antara lain:[9] Live attenuated vaccine yaitu vaksin hidup yang dibuat dari bakteri atau virus yang sudah dilemahkan daya virulensinya dengan cara kultur dan perlakuan yang berulang, namun masiha mampu menimbulkan reaksi imunologi yang mirip dengan infeksi ilmiah ( vaksin polio/ sabin, vaksin MMR, vaksin TBC, vaksin demam tifoid, vaksin campak, gondongan, dan cacar air/ varisela). Inactivated Vaccine (Killed Vaccine) yaitu vaksin yang dibuat dari bakteri atau virus yang dimatikan dengan zat kimia (formaldehid) atau dengan pemanasan, dapat berupa seluruh bagian dari bakteri atau virus, atau bagian dari bakteri atau virus atau toksoidnya saja. Sifat vaksin inactivated vaccine (vaksin rabies, vaksin influenza, vaksin polio/ salk, vaksin pneumonia pneumokokal, vaksin kolera, vaksin pertusis, dan vaksin demam tifoid). Vaksin Toksoid yaitu yang dibuat dari beberapa jenis bakteri yang menimbulkan penyakit dengan memasukkan racun dilemahkan ke dalam aliran darah. Bahan bersifat imunogenik yang dibuat dari toksin kuman ( vaksin difteri, tetanus). Vaksin Acellular dan Subunit yaitu dibuat dari bagian tertentu dalam virus atau bakteri dengan melakukan kloning dari gen virus atau bakteri melalui rekombinasi DNA, vaksin vektor virus dan vaksin antiidiotipe.
            Apapun jenis dari vaksin itu, tujuan dari pemeberian vaksin tidaklah berbeda yaitu menstimulasi reaksi kekebalan tanpa menimbulkan penyakit.

Sekilas Mengenai Pragmatisme William James
            William James lahir di New York pada tahun 1842. Memiliki minat lukis, psikologi dan sempat belajar kesehatan di Universitas Harvard. Pemikirannya mengenai pragmatisme pertama-tama dikenalkan lewat ceramahnya “Philosophical Conceptions and Practical Result”.[10] Konsepnya mengenai pragmatisme dapat diterapkan dalam semua pengalaman dan keprihatinan hidup, bukan hanya sebagai sebuah teori.
            Bagi James, pragmatisme adalah metode untuk memecahkan perdebatan metafisik yang tiada hentinya. Usahanya adalah menginterpretasikan setiap gagasan dengan mencari konsekuensi praktis dari setiap gagasan yang muncul.[11] Dengan metode ini, James tidak hendak memihak hasil akhir tertentu. Pragmatisme ini bukan sebagai dogma tertentu, namun sebagai metode. Kecenderungan filsafat yang idealistis, intelektualistis, monistis, indeterminis, sensasionalistis (terderminded dan toughminded), mencoba dikritisi oleh James. James berusaha berada di jalan tengah, yaitu suatu pandangan instrumental tentang pikiran sebagai suatu pengarah pada tindakan yang akan datang.[12]
            James mengatakan bahwa kebenaran terjadi pada sebuah ide. Menjadi benar dan dibuat benar oleh karena peristiwa, terverivikasi dalam fakta, sebuah proses. Verifikasi itu tentu memiliki konsekuensi praktis dimana ide sesuai dengan realitas dan tidak ada kontradiksi di antaranya. Salah satu istilah terkenalnya adalah bahwa dunia menunggu sentuhan tangan manusia yang membentuknya.[13] Pragmatisme James lebih bersifat pluralistik,  artinya tidak memihak salah satu namun memperhatikan konsekuensi praktis atas tindakan manusia sebagai usaha untum membentuk dunia.

Bijak Ber-vaksinasi
            Argumen pro-vaksin mengatakan bahwa mencegah lebih baik dari pada mengobati. Ibu yang hamil dengan membawa virus Toksoplasma, Rubella atau Hepatitis B bisa diberuikan vaksin agar tidak menular kapada keturunannya. Vaksin penting dilakukan untuk mencegah penyakit inveksi 9berkembang menjadi wabah seperti kolera, difteri dan polio. Meskipun kekebalan tubuh sudah ada, manusia hidup di lingkungan yang kurang sehat, sehingga perlu vaksin. Efek membahayakan dari vaksin bisa ditangani dengan tanggap terhadap jenis vaksin yang akan diberkan.
            Argumen kontra vaksin mengatakan bahwa vaksin haram karena menggunakan media kera, babi, virus haram yang dipakai secara syariat. Ada unsur ketidak halalan dari produk vaksin itu sendiri. Efek samping yang membahayakan karena mengandung mercuri, thimerosal, aluminium, benzetonium klorida dll. Efek samping lebih banyak daripada manfaat yang diperoleh. Kekebalan tubuh setiap orag cukup, tinggal menjaga dan merawat. Banyak fakta menunjukkan kondisi setelah imuniasasi atau vaksinasi memprihatinkan dari pada sebelum pemberian. Menyangsikan keamanan dan efektivitas vaksin. Yang paling parah adalah anggapan bahwa vaksinasi merupakan konspirasi korporat guna meraup untung dari masyarakat.
            Dari kedua argumen mengenai vaksinasi dapat dilihat betapa setiap orang mengusahakan yang terbaik bagi hidupnya. Pemerintah melalui Kemenkes telah berupaya menangani penyakit difteri dengan menggunakan vaksin. Beberapa daerah juga menggunakan vaksin untuk proses penyembuhan vaksin. Terlepas dari hasilnya, usaha-usaha itu diupayakan untuk kehidupan manusia. Kepentingan hidup manusia kiranya menjadi bahasan yang lebih essensial dari pada memperdebatkan persoalan kehalalan atau yang lain. Ketika manusia menjadi dasar, akar yang fundamental dari suatu persoalan, hendaknya perdebatan yang lain dihindari.
            Bijak ber-vaksinasi memuat unsur kebebasan untuk memilih. Salah satu aspek ke-manusia-an adalah kebebasannya. Kebebasan manusia bersifat mutlak dan hanya dibatasi oleh kebebasan manusia yang lain. Dalam hal ini, manusia bebas untuk menentukkan sikap dan memilih. Vaksin hanya satu dari berbagai macam upaya untuk mempertahankan kehidupan.
            Dalam pragmatisme James dapat dilihat bahwa setiap tindakan manusia pasti memikirkan konsekuensi praktis atasnya. Vaksinasi yang dianjurkan oleh pemerintah tentu memiliki tujuan praktis yaitu mencegah terjadinya penyebaran penyakit difteri yang menggetarkan masyarakat akhir-akhir ini. Vaksinasi sebagai usaha mencegah terjadinya penyebaran penyakit tidaklah salah, bahkan sangat berguna membantu manusia mempertahankan hidupnya. Tapi tak boleh dilupakan aspek kebebasan manusia yang boleh berdiri di tengah, bijak untuk menentukan dirinya. Tentu manusia harus memikirkan konsekuensi dari apa yang dipilihnya. Pilihan itu bukan semata-mata mengikuti argumen pro dan kontra tentang vaksinasi. Pilihan itu tentu harus didasarkan pada alasan yang rasional. Setiap pilihan yang rasional selalu diikuti pertanggungjawaban yang rasional pula.
            Dari persoalan mengenai vaksinasi di Indonesia ini, penulis hendak merenungkan lebih jauh dari sekedar memihak pro atau kontra ke dalam refleksi kritis dan memikirkan konsekuensi dari pilihan-pilihan eksistensial. Persoalan vaksinasi di Indonesia bukan soal halal atau tidak, baik atau tidak, efisien atau tidak, namun bijak menentukan pilihan sehingga setiap ‘pemilih’ bertanggungjawab terhadap pilihannya.


DAFTAR  PUSTAKA

Sumber Buku
Adinda, Anastasia Jessica, Menelusuri Pragmatisme, Kanisius, Yogyakarta 2015.
James, William, Pragmatism, Vintage Books, New York, 1907.

Sumber Internet

www.depkes.go.id (Pada Hari Minggu, 10 Desember 2017, PK. 18.30)
https://gaya.tempo.co (Pada hari Senin, 26 Februari 2018, Pk. 18.05)
https://www.cnnindonesia.com (Pada hari Minggu, 25 Februari 2018, Pk. 17.50)
http://infoimunisasi.com (Pada Hari Senin, 26 Februari 2018, PK. 18.00)
https://www.kompasiana.com (Pada hari Sabtu, 24 Februari 2018, Pk.15.00)



[1] Diunduh dari www.depkes.go.id (Pada Hari Minggu, 10 Desember 2017, PK. 18.30)
[2] Diunduh dari https://gaya.tempo.co (Pada hari Senin, 26 Februari 2018, Pk. 18.05)
[3] Ibid.
[4] Diunduh dari https://www.cnnindonesia.com (Pada hari Minggu, 25 Februari 2018, Pk. 17.50)
[5] Diunduh dari http://infoimunisasi.com (Pada Hari Senin, 26 Februari 2018, PK. 18.00)
[6] Diunduh dari https://www.kompasiana.com (Pada hari Sabtu, 24 Februari 2018, Pk. 15.00)
[8] Ibid.
[9] Ibid.
[10] Anastasia Jessica Adinda, Menelusuri Pragmatisme, Kanisius, Yogyakarta 2015, 20.
[11] Ibid., 21.
[12] William James, Pragmatism, Vintage Books, New York, 1907, 94.
[13] Ibid., 96.

Panorama Pendidikan Indonesia

GENERASI EMAS MELAWAN PRAGMATISME PENDIDIKAN PENDAHULUAN: Wajah Pendidikan di Era Pragmatis             Beberapa waktu yang lalu, me...