Rabu, 11 Oktober 2017

SeBuAh KoMpEtIsI



Aku mencoba untuk membuka diriku. Membuka hati dan pikiran untuk orang lain. Meski rasanya berat, namun aku selalu yakin bahwa ada makna disetiap cerita kehidupan ini. Mungkin tak banyak keindahan yang bisa terlukiskan dalam ceritaku, tak banyak guratan tinta yang bisa membuat orang tertawa karenanya. Namun aku ingin semua orang mengetahui, bahwa hidup itu tak selamanya berjalan lancar. Bahkan ada yang mengatakan, “Kegagalan adalah awal dari keberhasilan”. Kukumpulkan keberanian untuk menuliskan semua itu dalam ceritaku ini. Tak kan pernah ada keindahan tanpa campur tangan Kasih Tuhan. Begitu pula denganku, tak akan pernah bisa bermakna tanpa ada orang-orang disekitarku yang selalu ada buatku, saat ini dan nanti.….
 
***
Aku lahir dari keluarga yang sederhana. Sejak kecil aku hidup bersama keluarga, bersama kedua kakak yang selalu membimbing dan mengajariku bagaimana menjalani hidup. Aku selalu mengingat bagaimana mereka mengajariku naik sepeda, menemaniku ketika aku masih duduk di bangku TK dan masih banyak lagi. Aku masih ingat bagaimana aku memiliki hobi menangis ketika masih TK. Masih teringat padaku, Ibu Har (aku lupa nama lengkapnya), guru yang terkenal dengan senyumannya yang manis kala itu berkata kepadaku,
“Fendi, ayo maju, kerjakan soal di depan”, bujuk guruku.
Namun, aku tak pernah berani untuk mengerjakan. Jangankan untuk mengerjakan soal, untuk beranjak dari tempat dudukku pun aku tak punya nyali. Seketika itu, aku langsung menangis di pelukan kakakku. Ah…sungguh lucu jika aku mengingatnya. Tak kusangka, diriku yang sekarang memiliki masa lalu seperti itu. Memalukan, lucu, dan membuatku tertawa sendiri jika aku mengingatnya. Aku tak pernah bisa melupakan kejadian itu. 
***
Jauh dari masa taman taman kanak-kanak, ketika beranjak SD aku mulai terbiasa berangkat “sendiri” ke sekolah, tanpa harus merengek minta diantarkan. Tak banyak pengalaman yang bisa kuingat. Kecuali pengalaman ketika aku diminta untuk mengikuti lomba menyanyi. 
“Pak, bagaimana saya bisa?? saya tak pernah belajar bernyanyi!!”, begitu kataku dengan polosnya kepada Pak Anton, wali kelasku waktu itu.
Namun, keluhanku tak dihiraukan oleh mereka. Aku tetap mengikuti lomba. Waktu itu, aku menyanyikan sebuah lagu daerah berjudul “Bandung Selatan” dan “Selendang Sutera”. Tak kusangka, aku menyabet urutan ke dua. Senang rasanya karena itu pengalaman pertama mengikuti lomba dan aku menang. Keinginan untuk menjadi seorang “Penyanyi” muncul begitu saja
***
Aku adalah seorang anak kecil yang polos yang hanya mengetahui, film Power rangers, ultramen cosmos, Tamiya, Crush gear dan masih banyak film lain yang aku suka. Kehidupan “berkatolik” pun tak terlalu aku pahami. Namun sebuah acara untuk Orang Muda Katolik (MuDiKa) menarikku untuk mengikutinya. Kekecewaan hadir dalam diriku ketika aku tak bisa mengikutinya karena aku masih SD. Bukan Pendoel (nama kecilku) kalau masalah sekecil itu tidak bisa diatasi. Akhirnya, aku mengeluarkan ilmuku. Ilmu yang sudah terbukti ampuh, dan apa yang menjadi keinginanku bisa aku peroleh.
 “Yah, aku mau ikut acara rekoleksi Mudika, boleh ya yah…. Pokoknya, aku janji gak bakal nakal, jadi anak yang baik, dan gak membuat onar”, dengan nada sedikit memelas, wajah menyiratkan pengharapan, aku menggunakan “ilmu” itu untuk mengelabuhi ayahku (Mungkin jika ayah membaca ini, pasti sedikit ada rasa kesal dihatinya. Hehehehehe!).  Masih terekam dengan sangat baik padaku, ketika Romo Parokiku menutup acara rekoleksi dengan Misa.
“Siapa di sini yang paling kecil dan usianya yang paling muda?”, dengan nada yang ramah Romo Kholik bertanya kepada para peserta.
 “Fendi Romo”, bak suara koor di katedral Surabaya, semua peserta meneriakkan namaku.
Jujur dalam hati kecilku aku merasa malu karena memang akulah peserta yang dimaksudkan oleh Romo. Kuberanikan diriku untuk maju ke depan, tak berani menatap Romo, karena waktu itu aku bukanlah Fendi yang sekarang.
“Fendi, kalau sudah besar, apa cita-cita kamu?”, dengan lembutnya, Romo Kholik bertanya padaku. Sungguh, pertanyaan ini adalah pertanyaan yang “paling” sering ku dengar dari guru kelas enam di sekolahku. Masih tak berani menatap Romo, kukecilkan suaraku dan dengan penuh keyakinan aku mengatakan,
“Saya mau jadi seperti Romo Kholik”.
Sempat hening tak ada kata. Namun semua itu tak bertahan lama. Sadar akan apa yang aku katakan, semua peserta bertepuk tangan dan mengatakan, “amin”. Dari sanalah aku memiliki cita-cita untuk menjadi seorang Romo dan mengalahkan cita-citaku untuk menjadi seorang penyanyi. Namun, semua itu tak seperti apa yang aku bayangkan ketika aku memasuki masa SMP, masa di mana apa yang aku cita-citakan sempat hilang, lenyap tak berbekas sedikitpun.....
***
Sebagai seorang laki-laki yang normal, akupun mulai menyukai sesuatu yang indah, termasuk dengan lawan jenis. Akupun tak pernah bisa menyangkal, bahwa sebagai seorang laki-laki, ketertarikanku pada sepak bola jauh lebih besar dari pada harus ikut ekskul tari di sekolahku. Tahun 2009, saat kaku kelas IX,  sekolahku mengadakan seleksi untuk para murid yang berminat untuk ikut Liga Pendidikan Indonesia (LPI). Sebuah kesempatan emas buatku, bukan karena hobi sepak bola yang aku miliki, tapi karena satu hal,
“Jika aku bisa masuk Tim, kesempatan untuk mendekati siswi-siswi di sekolah akan semakin mudah”.
Begitulah, niat awalku untuk ikut seleksi. Setelah seleksi, tiba saatnya untuk pengumuman, siapa saja yang lolos dan mewakili sekolah untuk mengikuti kompetisi itu.
“Untuk posisi Penjaga Gawang adalah......Fendi dari kelas Xb”, dengan yakin pelatihku mengumumkan hasil seleksi.
Tak bisa disangkal lagi, hatiku bersorak, keinginanku. Di saat itulah, aku mulai kehilangan niatku untuk menjadi seorang Romo. Kompetisi sepak bola itu membuatku merasakan indahnya hidup dalam dunia sepak bola. Saat itu yang ada di dalam pikiranku adalah bermain sepak bola, masuk Tim besar, lalu mendapat uang dari sepak bola itu.
Keinginan itu terus tumbuh seiring dengan pahamnya aku akan arti cinta di masa remaja. Menyandang status sebagai penjaga gawang terbaik waktu itu memudahkan diriku untuk mendekati siswi di sekolahku, bahkan diluar sekolah sekalipun. Kesempatan inilah yang sudah aku tunggu sejak aku mengikuti seleksi. Senang, bangga dan bahagia bisa mendekati dan memiliki seorang pacar. Membuktikan bahwa aku pun bisa memiliki pacar dari seorang perempuan yang cantik.
 Saat itu hari-hariku berjalan seperti biasa. Sepak bola setiap sore, kumpul dengan teman-teman, setiap malam minggu main kerumah pacarku dan kegiatan sekolah seperti biasa. Hingga pada suatu pagi, ketika aku sedang menonton TV, salah seorang frater yang aku kenal datang kerumahku. Awalnya aku menerka-nerka,
 “Lapo frater iki mrene, kurang penggawean ta?” (mengapa frater ini kesini, kurang kerjaan ya?).
Hai fen! Bagaimana kabarmu?”, sapanya dengan ramah.
Oh baik ter, ada perlu apa ya ter?”, jawabku dengan nada bingung dan tersiratkan kebingungan.
Percakapan itu berlangsung cukup lama, bicara sana-sini dan aku masih belum paham maksud kedatangan frater ini.Tanpa menghilangkan kesopanan, aku terus mengajak frater ini berbicara, karena aku juga sudah kenal dengannya.Sampai pada akhirnya,
 “Bagaimana?Masih ada niat untuk jadi Romo? Aku sudah membawa formulir untuk masuk ke Seminari Garum, kalau kamu jadi masuk, kamu isi saja formulir ini dan langsung berikan ke Romo paroki”, dengan amat jelas frater ini menerangkan padaku.
Tak bisa aku berkata-kata.Dengan tatapan kosong, aku terus memegang formulir itu. Tanpa aku sadari, frater yang tadi memberiku formulir sudah pamit pulang dengan meninggalkan majalah Seminari dan lain sebagainya.
Aku tertegun melihat formulir itu. Tanpa aku sadari, aku sudah berada di atas tempat tidur. Masih teringat jelas pertanyaan frater itu,
“Masih ada niat untuk jadi Romo?”. 
Lama aku terdiam, akhirnya aku baru menyadari bahwa itu keinginanku ”DULU”, sebelum aku menemukan diriku dalam dunia sepak bola itu. Kembali aku memutar otakku, berfikir keras dan belum sampai pada sebuah keputusan.
 “Ya Tuhan, berikanlah pilihan yang terbaik, meskipun aku harus kehilangan satu diantara semua itu, tapi aku tau dan yakin, apa yang Engkau tentukan adalah yang terbaik”.
Hanya doa itu yang aku ingat sampai sekarang. Kemudian aku tidur, berharap sebuah pilihan aku temukan dalam mimpiku malam itu.
Keesokan harinya, aku mengikuti kegiatanku seperti biasa, yaitu bermain bola bersama tim. Namun, ada yang berbeda. Aku tak bisa fokus dalam bermain. Banyak sekali kesalahan yang aku buat.
“Mungkin malam ini aku akan menemui pacarku untuk lebih menenangkan diri”, begitu pikirku sesaat setelah istirahat bersama teman-temanku.
Malam itu, aku sudah bersiap untuk pergi ke rumahnya. Sengaja aku tak memberitahunya karena aku ingin sedikit memberi kejutan untuknya. Namun sesuatu yang tak pernah kuinginkan terjadi di malam itu. Ketika aku mengendarai motorku untuk datang ke rumahnya, aku melihat seorang wanita sedang bermesraan dengan seorang lelaki seumuran di sebuah kafe di daerahku. Awalnya aku tak menghiraukan hal itu, sebelum aku tau bahwa wanita itu adalah pacarku sendiri. Yang lebih parah, lelaki itu tak asing bagiku. Bahkan aku mengenal dia dengan baik, karena kami adalah teman satu tim. Mulutku terasa kelu, hatiku tak pernah bisa terlukiskan bagaimana perih dan sakitnya karena aku diselingkuhi.

Setelah aku memergokinya, aku turun dari motorku dan,
“Sayang, mulai sekarang kita putus,” ucapku dengan nada kekesalan.
“Kenapa? Aku tidak punya hubungan apapun dengan dia!”, timpalnya.
 “Aku minta maaf kalau aku tidak bisa menjadi yang terbaik untukmu, seperti orang yang ada bersamamu sekarang”, sahutku tak kalah keras.
“Sayang, tolong ngertiin aku, aku masih sayang sama kamu”, dengan tersendat-sendat  dia mencoba menahan air matanya dan menjelaskannya padaku.
Sekarang, kita tak lebih dari seorang teman. Aku kecewa sama kamu, dengan menahan air mata dan kekecewaan, aku berbalik badan, namun tanganku ditarik oleh “mantan” pacarku itu.
“Aku bisa jelasin semuanya, ini hanya salah paham”, dengan menangis dia menahanku agar aku tidak pergi dan melepaskan genggaman tangannya.
Tak sepatah katapun keluar dari mulutku. Aku tetap bersikukuh dengan apa yang aku putuskan. Kecewa, sedih bercampur menjadi sebuah kerancuan dalam diriku. Meninggalkan dia dalam tangisannya.
Sesampainya di rumah, aku tak mau bercerita dengan orang tuaku karena mereka mengenal baik pacarku (lebih tepatnya mantan). Begitu pula mantanku, dekat sekali dengan orang tuaku. Aku tak punya keberanian untuk berbicara kepada orang tuaku kalau aku putus dengan dia. Dengan langkah gontai aku masuk ke dalam kamar. Aku mulai melepas semua foto yang ada di pigora kamar, aku menghapus kenangan indah bersamanya. Ada perasaan tak terima karena aku di”selingkuhi”. Sungguh miris, rasanya seperti tak punya semangat hidup. 
Cinta memang bisa merubah segala sesuatu, merubah diriku yang kuat, tegar, menjadi lelaki yang sangat rapuh, dan tak berdaya karena cinta. Malam itu juga aku memutuskan untuk mengisi formulir pendaftaran masuk ke sekolah calon Romo itu, berharap bahwa aku bisa melupakan dia dan segudang kenangan-kenangan indah bersamanya.
Aku sangat terusik dengan keadaan itu. Aku bertambah kesal dengan keadaan keluarga yang carut marut dengan semua masalahnya. Aku merasa tak betah tinggal di rumah, rasanya seperti ingin keluar dari jaring laba-laba yang membuatku risih. Tak pernah aku berpikir akan mendapatkan masalah saat usiaku masih terlalu muda. Semua keadaan itu tak pernah membuaku bahagia, sekalipun aku mencoba bermain bola, berharap bisa melupakan masalah itu. Ternyata tidak.
Suatu saat, aku mendapat surat dari Seminari. Beruntung bahwa aku diterima masuk ke Seminari, lulus ujian nasional dengan baik, dan aku memilih untuk membuka hatiku terhadap cita-citaku yang dulu. Bukan, bukan membuka hati tepatnya. Namun aku ingin melarikan diri dari semua masalah yang ada. Aku sudah muak dengan semua yang ada di sekitarku. Diselingkuhi, keruwetan dalam keluarga, semua itu membuatku memilih keputusan yang sebenarnya salah. Waktu itu aku bingung, tak bisa berpikir positif lagi. Akupun mengatakan pada orang tuaku, aku ingin masuk ke Seminari karena ingin jadi Romo. Namun semua itu hanya kebohongan semata, dan niat itu tidak ada sama sekali. (Dengan tulisan inipun aku memohon maaf pada orang tuaku yang tak pernah mengetahui hal ini, Sebelumnya..!!) Hingga pada akhirnya, aku pun meninggalkan dunia sepak bolaku, meninggalkan “CInta pertama”ku dan meninggalkan semua kenangan indah waktu itu untuk masuk ke Seminari, sekolah calon Romo.
***
Kehidupan di Seminari bisa membuatku melupakan cinta pertamaku itu. Malahan aku bisa nyaman berada di asrama seperti ini. Selain bisa melupakan masalah, aku pun bisa mengembangkan bakat serta potensiku. Butuh lebih dari sepuluh bulan aku bisa melupakan semua masalah itu. Setelah aku berdamai dengan diriku sendiri, aku mulai menyadari bahwa lewat masalah itulah aku dituntun oleh Tuhan untuk mengikuti panggilannya. Seiring berjalannya waktu, akupun menemukan panggilanku yang dahulu sempat hilang karena berbagai macam hal. Dengan tertatih-tatih aku berjuang, hingga aku bertahan hidup di Seminari. Tak kusangka ternyata aku masih bisa belajar bermain musik. Aku mendalami untuk bermain gitar, keyboard dan organ. Namun aku baru bisa mendalaminya waktu kelas dua SMA dengan dibimbing oleh kakak kelas dan adik kelasku yang juga mahir dalam memainkan alat musik. Lucu jika diingat,
“Nanti kalau sudah mahir, aku akan merayu cewek dengan keahlianku bermain musik dan dengan suara merduku”, begitulah motivasi awalku bermain musik.
Benar saja, ketika liburan kenaikan kelas tiga SMA aku mengikuti aksi panggilan di luar daerahku. Saat itu tak ada motivasi untuk berpacaran karena mau ujian nasional. Namun, diluar kehendakku, aku jatuh cinta kepada salah satu OMK. Waw…. Tentu, hal ini membuatku bersemangat dalam aksi panggilan. (Untuk pendekatan dan yang lainnya sengaja aku sensor, karena bukan itu yang terpenting).
Setelah kelulusan, aku melanjutkan ke kelas empat (tingkat akhir di Seminari Garum). Tak kusangka, motivasi awalku ketika bermain musik berubah total setelah aku tahu bahwa motivasi itu salah. Semenjak aku tau dan sadar, aku mulai merubah pola pikirku dan menemukan motivasi yang lebih dari pada hanya sekedar unjuk kebolehan kepada lawan jenis. Semenjak itu,  akupun mulai mengetahui apa itu cinta, apa itu kasih sayang. Cinta memang tak harus memiliki. Cinta akan menemukan artinya, jika kita pun merasa bahagia ketika kita melihat orang-orang yang kita cintai berbahagia dengan orang yang yang dicintainya. Bukan berarti kita korban perasaan, akan tetapi lebih pada membiarkan orang yang kita cintai berbahagia dan bisa menemukan keindahan hidup. Jika kita sampai pada tahap itu, maka cinta yang Tuhan berikan kepada kita akan benar-benar menjadi nyata. Aku pun merasa, jika aku mencintai seseorang, bukan soal aku bisa berdua dengan orang yang aku cintai, namun bagaimana aku bisa membuat mereka bahagia dan mereka meras nyaman berada di dekatku sebagai saudara.
***
Inilah panggilanku. Berawal dari pelarianku, aku menemukan hidup, panggilanku yang sesungguhnya jauh berbeda dari pada hanya sepak bola. Aku mulai berpikir,
“Jadi Romo pun masih tetap bisa bermain sepak bola kok, bahkan kadang-kadang tidak perlu membayar sewa lapangan futsal karena sudah ada yang menanggung .heheheheheeh!!!”
 Akupun mulai mencintai kehidupanku dan diriku. Cinta inilah yang membuatku menentukan pilihan ini. Sudah sejauh ini aku melangkah. Banyak lika-liku kehidupan yang bisa membuatku banyak belajar apa itu kehidupan. Meski ada ratap tangis, duka dan caci maki banyak orang, namun aku selalu percaya bahwa Tuhan menyediakan sesuatu yang sangat berharga untuk kehidupanku di dunia ini. Semua itu aku lakukan demi cintaku kepada Tuhan. Semua bakat, talenta, dan diriku kuserahkan pada Tuhan yang telah menjadikan diriku seperti sekarang ini. Masa laluku tak pernah membuatku terpuruk lebih dalam. Kenangan-kenangan manis dunia sepak bola, pergaulan sebelum aku masuk dalam panggilan ini kujadikan sebagai sebuah bingkai kehidupan yang selalu membuat diriku kuat.
Tanpa Tuhan, aku tak yakin bisa berjalan sejauh ini, karena bagiku Tuhan adalah muatiara yang selalu menemaniku untuk melengkapi dan menyempurnakan bingkai kehidupanku yang tak sempurna. Hanya Tuhan yang bisa menyempurnakan dan melengkapinya. Bingkai yang sudah tersusun ini akan aku jaga. Untuk menjalani hidup sebagai pelayan Tuhan. Aku bukanlah wayang, yang hanya digerakkan oleh seorang dalang. Dan dunia ini bukanlah panggung sandiwara, namun sebuah kehidupan nyata yang hanya dirasakan oleh manusia yang mampu berfikir dalam hidupnya.
Bagiku, hidup ini seperti sebuah kompetisi sepak bola. Di mana aku harus bermain di lapangan yang berbeda-beda. Dengan teman-teman yang selalu mendukungku dari setiap lini. Meskipun aku terkadang tak mendapat perhatian, umpan indah, dan kesempatan untuk menyelessaikan masalahku, namun aku selalu berada dalam lapangan untuk melawan musuh-musuhku. Tak jarang aku harus merebut apa yang menjadi tujuanku dari godaan yang tak pernah jauh dari diriku. Aku punya hak untuk menendang bola, mengumpan, dan memasukkan bola dalam gawang. Meskipun pelatih menyuruhku untuk menjadi pemain tengah, namun dalam permainan aku bisa saja berubah menjadi pemain depan. Aku pun bisa berhenti bermain jika pelatihku memintaku keluar dari arena pertandingan. Aku punya hak untuk hidup mewah, menjadi sorotan banyak orang dan lain sebagainya. Sekalipun Tuhan memintaku untuk menjadi seorang Imam, namun bisa saja aku tidak menurutinya. Aku bisa saja menggunakan hakku sesuka hati tanpa memperhatikan konsekuensinya. Akan tetapi aku tau apa yang Tuhan inginkan untuk hidupku. Menjadi penerus-Nya, hingga aku diminta-Nya untuk berhenti dari hidupku. Berhenti dari romansa kehidupan yang penuh dengan gejolak ini. Dan nantinya aku akan kembali pada Dia menuju, kehidupan yang lebih sempurna.


(fiksi yang dipersonifikasi dari cerita asli)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Panorama Pendidikan Indonesia

GENERASI EMAS MELAWAN PRAGMATISME PENDIDIKAN PENDAHULUAN: Wajah Pendidikan di Era Pragmatis             Beberapa waktu yang lalu, me...